Kamis, 19 Desember 2013

Gerakan Perbukuan Kaum Muda

Catatan : Gerakan perbukuan yang dimotori oleh kalangan muda menarik disimak. Artikel dibawah ini diambil dari blog  http://akubuku.blogspot.com/2008/11/gerakan-perbukuan-kaum-muda.html, yang ditulis Eri Irawan yang diposting  03 November 2008. Sementara foto yang menyertai dikerjakan terpisah untuk memberikan ilustrasi pada blog ini mengenai beberapa orang muda yang aktif di dunia perbukuan. Foto diambil dari blog dan media. Kiranya artikel dan foto yang menyertai dapat memberikan inspirasi. (Ben)
-------------------------- 


Gerakan Perbukuan Kaum Muda 

Eri Irawan  

Mereka mewarnai koran-koran dengan kata yang menghipnotis, bukan melabur jalan dengan darah yang amis.

Ini tentang semangat itu. Semangat anak-anak muda di dunia perbukuan. Semangat yang nyaris tak pernah redup, meski jalan makin pejal.

Muhidin M. Dahlan
Jumat lalu (24/10), aku menghadiri peluncuran trilogi buku soal Lekra. Disusun oleh dua anak muda perkasa, Muhidin M. Dahlan dan Rhoma Dwi Aria Y.

Di tengah gegap-gempita diskursus "capres muda, politisi muda, et cetera", ada baiknya, kukira, republik ini berpaling pada gerakan perbukuan kaum muda. Singkirkan dulu perdebatan soal capres muda. Politik sudah terlalu pongah. Ia dibangun tanpa ilmu pengetahuan, karena hasrat kuasa mengaliri setiap inci jiwanya. Ia dibangun tanpa etik. Politik bukan lagi perjuangan ideologis. Politik adalah hal yang bengis.

Mungkin, kini tepat kita bicara soal gerakan perbukuan kaum muda. Bukan hanya karena Oktober ini ada momen Sumpah Pemuda, tapi lebih jauh dari itu, republik ini perlu suntikan semangat perbukuan yang lebih "gila".

Dewi Lestari
Secuil kisah anak-anak muda di Iboekoe itu sebenarnya sudah pernah kuturunkan di koran tempatku bekerja. Tapi, sejujurnya, aku tak kenal mereka secara pribadi. Hanya pernah beberapa kali saling berkirim SMS. Bahkan, aku baru bertatap muka dengan Muhidin dan Rhoma Aria, dua sumber utama dalam tulisan yang pernah kuturunkan di koran tempatku bekerja, Jumat (24/10) malam lalu, kala peluncuran buku di sebuah ruang senyap tak jauh dari Masjid Istiqlal.

Siapa yang tak bergetar membaca kisah soal jatuh-bangunnya FLP? Siapa yang tak angkat topi melihat aksi Gola Gong? Dan, siapa yang tak salut melihat kegilaan dua anak muda penulis Lekra Tak Membakar Buku itu?

Mungkin, salah satu indikasi menonjol makin hilangnya semangat menghikmati buku dan dunianya adalah meriahnya kekerasan untuk menyelesaikan polemik. Contoh mutakhir adalah saling serang kelompok FPI dan AKKBB.

Ayu Utami
Padahal, perjalanan republik ini dibangun dengan polemik. Tapi, polemik itu dibingkai dengan dunianya, caranya sendiri. Dua kubu yang berpolemik saling beradu argumen, bukan bertukar pukulan. Mereka saling menyerang lewat tulisan, bukan main pentungan. Mereka mewarnai koran-koran dengan kata yang menghipnotis, bukan melabur jalan dengan darah yang amis.

Sejarah mencatat banyak polemik di negeri ini yang dilalui dengan perdebatan ideologi dan argumentatif di ruang-ruang publik, macam koran, majalah, hingga stensilan. Satu polemik yang membuat republik ini kian kaya adalah ketika lembaran waktunya dilaburi polemik hebat antara kubu Manikebu dan seniman-seniman "kiri". Mereka saling adu tulisan; urusan benar-salah, saya memihak siapa, itu urusan nomor buncit. Dan tentu, masih banyak lagi polemik hebat yang mengagumkan, menguras pikiran, menyentuh mata-batin manusia. Kudengar, ada sekira 100-an polemik yang pernah ada di republik ini yang coba disusun oleh teman-teman Iboekoe.

Kembali lagi, siapa yang tak bergetar mendengar kisah mereka, kaum muda di dunia perbukuan kontemporer? "Dalam sehari, selama 15-18 jam kami menulis hasil riset. Tiga hari tiga malam kami pernah tiada henti berkutat dengan Harian Rakjat," cerita Muhidin saat peluncuran bukunya kemarin.

Sebuah semangat yang nekat, nyaris luput dari kewarasan otak manusia. "(Saking minimnya biaya), sampai-sampai editor pun nggak ada. Percetakannya pun sudah lama kami kenal, jadi ngutangnya mudah," cerita Muhidin soal proses kelahiran bukunya.

Andrea Hirata
Banyak anak muda datang ke Rumah Dunia-nya Gola Gong. Mereka mempelajari teater, menggambar, membaca apa pun, dan tentu saja menulis.

Inilah mungkin kredo baru tentang bagaimana keindonesiaan di masa depan harus dibangun: bahwa buku adalah kunci, lentera yang membawa benderang. Maka, jangan ada lagi buku yang dibakar, buku yang dilarang hanya karena beda pendapat.

Dan Gola Gong berujar mantap, "Rumahku rumah dunia, kubangun dengan kata-kata." Maka, ia pun merelakan tanah luas di belakang rumahnya sebagai tempat sekolah. Bukan sekolah formal dengan seragam dan harus hormat bendera tiap hari Senin, tapi sekolah kehidupan soal bagaimana pikir diasah dan rasa dipertajam. Hingga, keduanya, pikir dan rasa itu, bisa menyatu menggapai sebuah makna: bahwa hidup itu harus berguna bagi sesama.

JJ. Rizal
Dan, aku kembali merasa gerakan perbukuan kaum muda mesti terus diluapkan. Republik ini jelas dibangun oleh kaum muda yang gila buku. Sejarah mencatat di banyak buku tentang bagaimana perjalanan intelektual Tan Malaka, Bung Karno, Bung Hatta, Semaoen, Sjahrir, Natsir, dan sederet nama lainnya. Namun, kini, seperti kita tahu, lebih banyak kaum muda kita yang sibuk bersolek daripada mendaras buku. Lebih banyak yang fasih bicara model baju terbaru daripada bicara kapitalisme, sosialisme, marxisme, et cetera. Lebih banyak yang datang ke pesta daripada klub-klub diskusi buku.

Kisah "kegilaan" anak-anak Indonesia Buku (Iboekoe) mungkin bisa dijadikan contoh. Selain itu, juga ada komunitas Forum Lingkar Pena yang melesat kencang, Rumah Dunia-nya Gola Gong, Alpen Prosa, dan beberapa lagi komunitas penulis muda. Meski berderet, kalau kita bicara statistika, jumlah mereka mungkin hanya 5 persen dari total kaum muda republik ini, tempat di mana harapan masa depan keindonesiaan digantungkan.

Djenar Maesa Ayu
Aku tak bicara adanya garis ideologis di antara kelompok-kelompok anak muda. Ideologi benar atau tidak itu nomor kesekian. Yang terpenting, mereka semua menyemai ilmu pengetahuan, membangun peradaban dengan caranya sendiri. Sebuah cara yang kian hilang: menghikmati buku dan dunianya.

Tapi, sebuah angka memang bukan statistika yang beku. Meski sedikit, gerakan perbukuan kaum muda ini masih lantang meninju langit, menantang apa pun hadangan. Bergelut dengan cerca dan dilema di sebuah koleseum besar; menuju peradaban atau kebiadaban.

Kisah anak-anak muda itu dalam bergelut dengan dunia buku sungguh luar biasa. "Ini sebuah dunia yang senyap," kata Muhidin kepadaku lewat telepon, Juni lalu.***

8 Insan Perbukuan Terfavorit 2012



Goodreads Indonesia (GRI) telah menyelenggarakan Festival Pembaca Indonesia dan menganugerahkan buku terfavorit pilihan pembaca untuk tahun 2012. 

Anugerah Pembaca Indonesia 2012 melakukan tiga tahap seleksi selama tiga minggu untuk menentukan suara terbanyak antarnominator di tiap kategori.

GRI adalah komunitas pembaca Indonesia yang tergabung dalam situs jejaring sosial para pembaca dunia goodreads. Pada 7 Juni 2007, para pembaca dari Indonesia yang sudah bergabung dengan Goodreads.com,  kemudian membentuk grup Goodreads Indonesia (GRI). Sampai tahun 2012, jumlah anggota GRI sebanyak 7.000 pembaca, dan jumlah buku berbahasa Indonesia yang terdata sudah lebih 9.000 judul.

Di ulang tahunnya yang ketiga, sudah lebih 3.700 pembaca Indonesia bergabung, dan lebih dari 8.000 buku berbahasa Indonesia diunggah ke pusat data Goodreads.

Pada Desember 2012, GRI sudah melakukan Festival Pembaca Indonesia dan berikut adalah daftar lengkap instan perbukuan pilihan pembaca Indonesia:

1.     Penulis dan Buku Fiksi Terfavorit: Negeri Para Bedebah oleh Tere Liye
2.     Penulis dan Buku Non Fiksi Terfavorit: How To Master Your Habits oleh Felix Y. Siauw
3.     Penulis dan Buku Puisi Terfavorit: Mata Ketiga Cinta oleh Helvy Tiana Rosa
4.      Penulis dan Buku Komik/Novel Grafis Terfavorit: 33 Pesan Nabi Vol. 2: Jaga Hati, Buka Pikiran oleh Vbi Djenggotten
5.     Sampul Buku Fiksi Terfavorit: Berjuta Rasanya oleh Mano Wolfie
6.     Sampul Buku Non Fiksi Terfavorit: How To Master Your Habits oleh Tim Khilafah Press
7.     Sampul Buku Puisi Terfavorit: Dear You: Demi Apa? Demikian Aku Mencintaimu oleh Dwi Anissa Anindhika
8.     Sampul Buku Komik/ Novel Grafis Terfavorit: 33 Pesan Nabi Vol. 2: Jaga Hati, Buka  Pikiran oleh Vbi Djenggotten

Goodreads adalah situs jejaring sosial para pembaca di seluruh belahan dunia, yang memungkinkan seseorang untuk melihat isi “rak” buku temannya antara lain: buku apa yang sudah dibaca (read), sedang dibaca (currently reading), dan akan dibaca (to-read).

Situs ini dibangun pada akhir tahun 2006 oleh Otis Chandler dan sudah mengundang lebih dari 2.000.000 pembaca di seluruh dunia untuk bergabung dan memasukkan sekurangnya 40.000.000 judul buku ke dalam pusat data Goodreads.

Goodreads Indonesia berusaha untuk selalu berperan aktif dalam dunia perbukuan di Indonesia. Goodreads Indonesia tidak mau berhenti hanya pada tahapan sebagai komunitas pembaca pasif. Komunitas ini berkehendak untuk menjadi komunitas pembaca aktif yang diwujudkan dalam pelbagai misi kegiatan di dunia online maupun di dunia nyata.

Misi dari setiap kegiatan selalu diarahkan untuk menciptakan “jembatan” atau ruang dialog antara penulis dan pembaca, penerbit dan pembaca, dan masyarakat sebagai pembaca kebanyakan.
- See more at: http://sehabooks.blogspot.com/2013/02/8-insan-perbukuan-terfavorit-2012.html#sthash.oUfn4Vt8.dpuf

Merentas Karier di Dunia Perbukuan, Siapa sudi?

Oleh Hikmat Kurnia

 Senin, 24 Januari 2011 11:04 Hikmat Kurnia

Dalam sebuah seminar tentang pilihan kareir setelah keluar dari kampus, saya dihadapkan pada pertanyaan: mengapa memilih karier di dunia perbukuan? Apa nilai lebih yang didapatkan dengan bergiat di industri perbukuan dibandingan dengan industri lainnya? Kalau kita tertarik dengan industri buku, modal apa yang diperlukan? Pertanyaan-pertanyaan itu memang menjadi sangat mudah dijawab, kalau jawabannya mengambil kasus personal. Namun, tentu saja memerlukan penjelasan lebih panjang lebar ketika yang dibutuhkan adalah acuan-acuan yang bersifat umum dan bisa diterapkan dalam kondisi yang berbeda.

Memetakan Kemampuan

Ada sebuah pepatan yang selalu didengungkan kalangan praktis bisnis: jika ingin duit maka harus do it. Lakukanlah! Pepatan lain mengatakan jika Anda ingin berkarir hebat di satu bidang, optimalkanlah potensi yang Anda miliki dan jangan sangat sibuk menutupi kelemahan diri. Artinya apa? Kareir Anda akan hebat jika Anda melakukan sesuatu dengan sepenuh hati, konsisten, memilih bidang yang memang senang Anda lakukan, serta tidak jauh-jauh dari apa yang Anda miliki.

Kondisi tersebut bisa jadi menjadi acuan cukup ketika kita menetapkan karier di sebuah industri. Artinya, ketika memilih karier di dunia perbukuan, saya menyadari betul bahwa apa yang saya punyai adalah kegemaran akan buku. Buku sepertinya menjadi dunia yang saya mulai tekuni sejak duduk di bangku sekolah menengah walaupun tentu saja karena hidup di kota kabupaten tidak mudah menemukan buku. Untungnya ada perpustakaan umum daerah yang waktu itu cukup baik, sehingga dahaga itu sedikit terobati.

Bersinggungan dengan buku lantas menjadi rutinitas hidup. Apalagi, ketika menjadi mahasiswa. Banyaknya referensi tentang buku membuat saya tahu mana buku yang baik isinya, jelek gaya bahasanya, artistik tampilan covernya, tepat pilihan hurufnya, atau apa pun yang berkaitan dengan tampilan fisik dan isi buku. Modal itulah yang menjadikan saya mulai bikin-bikin resensi buku  dan artikel di media massa. Lewat resensi saya tidak hanya menikmati kandungan buku, tetapi juga mampu mendapat honor dan buku baru gratis dari penerbitnya. Bacaannya pun menjadi beragam. Tidak hanya berkaitan dengan sejarah atau budaya, tetapi melebar ke buku sastra, politik, ekonomi,  pertanian, dan lain-lain.

Dengan modal bacaan yang beragam, juga beberapa resensi buku dan artekel, ini merupakan modal awal yang baik untuk terlibat di dunia perbukuan. Masalahnya adalah bagaimana mengubah pola pikir dari penikmat buku menjadi pekerja perbukuan. Ini memang menjadi persoalan karena posisi buku menjadi berbeda. Sebagai penikmat buku, kacamata yang seringkali dipakai adalah bagaimana mendapatkan buku-buku yang sesuai minat dan ketuhan pribadi. Namun, pola pikir itu serta merta berubah saat buku tidak ditempatkan sebagai melulu produk budaya atau sumber pengetahuan. Dalam pola pikir industri, buku ternyata bersingguhan secara jelas  dengan kebutuhan konsumen, ketepatan dan kecepatan distribusi, efektivitas promosi, penentuan harga yang tepat, dan pengelolaan sumber daya manusia.

Dalam posisi tersebut, buku yang baik tidak hanya baik secara kualitas tetapi juga harus mampu diterima konsumen. Untuk mencapai target tersebut, peran penerbit menjadi sangat menentukan. Apalagi, industri perbukuan telah bergeser dari kultur  lama ke pola yang lebih agresif.  Dahulu, sebuah penerbit hanyalah bersifat "menunggu" naskah yang masuk dari penulis. Penerbit kategori ini nasibnya sangat ditentukan oleh kebaikan hati sang penulis. Jika penulisnya mampu menghasilkan naskah yang baik maka penerbit tersebut akan mendapat keuntungan. Celakanya, kalau buku yang dihasilkan sang penulis tidak peka dengan kebutuhan pasar, maka susahnya si penerbit, karena bukunya tidak laku. Dengan demikian, sinergi antara penerbit dan penulis kurang terjalin secara optimal. Penerbit dan penulis bekerja sendiri-sendiri.

Reaksi atas kondisi tersebut tentu saja sangat buruk, karena ketidakmampuan menghasilkan buku yang baik secara kualitas dan pasar akan menimbulkan keluhan-keluhan susulan. Coba tengok alasan yang seringkali dikemukan atas tidak berkembangnya industri buku Indonesia: rendahnya minat baca, kurangnya daya beli, susahnya mendapatkan buku, kurang pedulinya pemerintah, tidak mudahnya mendapatkan penulis, dan alasan-alasan yang sepertinya benar, padahal hanyalah bersifat pembenaran.

Alasan-alasan tersebut tentu saja melemahkan motivasi dan semangat kita untuk berkiprah dalam industri buku. Kita seolah-olah dihadapkan pada kondisi yang sangat buruk dan sama sekali tidak bisa diperbaiki. Industri buku pun seolah-olah tidak punya peluang untuk berkembang. Sikap mencari kambing hitam inilah yang menyebabkan industri buku Indonesia hanya mampu menghasilkan buku baru kurang dari 12.000 buku per tahun.

Dlam sikap seperti itu, maka wajarlah kalau penerbit-penerbit Indonesia lebih berorientasi proyek daripada pasar. Dalam jangka pendek tentu saja berkiprah di buku proyek lebih menguntungkan secara ekonomi daripada bersusah-payah menghasilkan buku yang diminati pasar. Namun, dalam jangka panjang, kepekaan penerbit atas kebutuhan konsumen semakin tumpul.  Penerbit jadinya sama sekali tidak berupaya memahami kebutuhan konsumen, tetapi berusaha mendekat pada kekuasaan (sebuah kondisi umum di Indonesia).  Untuk membuktikan asumsi ini coba bandingkan data anggota IKAPI dengan jumlah penerbit yang menjual bukunya lewat toko buku. Jika ada 700 lebih penerbit yang menjadi anggota asosiasi ini, mungkin kita hanya menemukan kurang dari 250 penerbit yang bukunya bisa dijumpai di toko buku. Kondisi yang memilukan. Pertanyaannya : apa yang dilakukan kita sebagai pekerja perbukuan yang notabene telah memilih karier di bidang ini.

Menjawab Tantangan

Dalam asumsi bidang keredaksian sebuah penerbit yang berorientasi pasar  selalu ada keyakinan bahwa instrumen pemasaran yang utama adalah produk itu sendiri. Pengertiannya, bagian redaksi harus mampu menghasilkan buku yang memang berkualitas, judul yang impresif,  tampilannya menarik, dan tema yang sesuai dengan kebutuhan pembaca. Sementara dalam pandangan pemasaran, buku yang baik adalah buku yang dengan mudah dijual, mampu menjawab trend yang berkembang, harga yang kompetitif, dan stok yang memadai. Kunci untuk menjawab tuntunan  tersebut adalah kreativitas, kecepatan, jejaring yang luas, dan kemampuan membaca pasar.

Dalam kondisi ini setiap elemen penerbitan (redaksi, pemasaran, distribusi, dan promosi) bisa memainkan peran yang sangat strategis. Alasannya,  berkembang tidaknya sebuah penerbit bukan hanya urusan seberapa banyak modal yang dimiliki, tetapi sangat terkait sejauh mana kreativitas bisa dioptimalkan. Celaknya, kreativitas itu urusan manusia.  Artinya, kalau kita berniat memilih karier di Industri buku, kreativitas kita tidak boleh mati. Setiap elemen industri buku harus bergerak untuk mencari celah  dari kondisi yang kurang menguntungkan ini.

Keterbatasan memang bisa menjadi hambatan, tetapi keterbatasan bisa juga memacu kreativitas. Jika kita berpikir bahwa kondisi perbukuan memang kurang menguntungkan bisa jadi justru disitulah peluangnya. Kasus-kasus buku best seller selamanya mampu keluar dari ruang gerak yang terbatas. Perhatikan kasus Jakarta Under Cover. Buku ini pertama kali muncul bukan dari penerbit besar yang ada di Jakarta, tetapi sebuah penerbit yang baru menggeliat dari Jogya. Artinya apa? Nama besar dan skala usaha tidak bisa menjamin kreativitas. Keberanian untuk menerbitkan buku dunia malam Jakarta saat situasi politik yang sedang mencari bentuk adalah bukti sebuah kejelian membaca peluang. Atau perhatikan kasus Supernova. Selama ini dunia selebriti sangat berjarak dengan dunia buku. Munculnya Supernova membuktikan bahwa buku memang bisa milik siapa saja.

Jika kita tidak hanya menempatkan buku terlalu berat, melulu sebagai mahakarya dan puncak pencaian si penulis, rasanya industri buku bisa sangat berkembang. Artinya, buku juga bisa sebagai hiburan, guru tanpa kelas, atau sumber inpirasi dan movitasi.  Namun, semua bisa dicapai jika kita sebagai pekerja perbukuan mampu mengoptimalkan kreativitas. Artinya, jika kita berniat berkarier di industri buku, siap-siaplah untuk memusuhi stagnasi dan mengarungi langit ketidakterbatasan.

Sumber :  http://www.hikmatkurnia.com/kronik-buku/2-merentas-karier-di-dunia-perbukuan-siapa-sudi

Merekam Peristiwa Perbukuan Indonesia

 Minggu, 02 Mei 2010 | 16:53 WIB

TEMPO Interaktif, Jakarta - Anda senang mengikuti perkembangan dunia sastra dan perbukuan di Indonesia? Jika ya, sepertinya Anda perlu "mengintip" situs web Indonesia Buku. Sesuai dengan namanya, situs web yang dapat diakses di alamat http://indonesiabuku.com ini memang berisi informasi dan catatan-catatan tentang dunia perbukuan di Indonesia.

Seperti yang tertulis di halaman Ihwal Kami, Indonesia Buku didirikan pada 23 April 2006 di Yogyakarta oleh beberapa orang, antara lain Taufik Rahzen, Galam Zulkifli, Dipo Andy Muttaqien, Eddy Susanto, dan Muhidin M. Dahlan. "Komunitas perbukuan" ini awalnya merupakan sayap Gelaran Budaya, sebuah galeri seni dan budaya yang didirikan pada akhir 1999 di Yogyakarta.

Komunitas ini didirikan untuk merekam kronik atau catatan berbagai peristiwa perbukuan yang pernah terjadi di Indonesia. Selain mengumpulkan peristiwa perbukuan dari tahun ke tahun, komunitas ini membuat catatan-catatan dan kritik, yang kemudian dituangkan ke situs web Indonesia Buku.

Situs web ini sejatinya sudah dipublikasikan tiga tahun yang lalu. Awalnya hanya berupa blog, tetapi karena informasi yang disajikan semakin banyak, Indonesia Buku akhirnya membuat situs web sendiri. Menurut salah satu pendirinya, Muhidin M. Dahlan, situs web Indonesia Buku pada awalnya dirancang sebagai tempat penyimpanan data informasi kronik perbukuan di Indonesia.

Namun tak hanya menyimpan data kronik perbukuan, kini Indonesia Buku juga memuat resensi, esai, bahkan liputan khusus soal dunia perbukuan yang terjadi di Tanah Air.

"Kami punya rencana besar membuat kronik perbukuan Indonesia selama dua abad, dari abad ke-20 sampai abad ke-21," kata Muhidin, yang juga berperan sebagai Pemimpin Redaksi Indonesia Buku. Rencana tersebut diakuinya sangat ambisius.

Agar rencana tersebut bisa tercapai, setiap hari pihaknya melakukan pemutakhiran informasi berbagai peristiwa perbukuan yang terjadi. Indonesia Buku juga melakukan penelusuran dan penggalian resensi-resensi yang pernah ditulis sejak awal abad ke-20.
Salah satu resensi buku lama yang diangkat kembali oleh Indonesia Buku adalah Satu Abad Kartini (1879-1979), yang ditulis oleh Aristides Katoppo, yang resensinya ditulis di majalah Tempo edisi 12 Mei 1978. Resensi lawas ini diposting kembali pekan lalu, bertepatan dengan Hari Kartini, yang jatuh pada 21 April.

Tapi bukan berarti Indonesia Buku cuma jadi pengumpul resensi lama yang pernah ditulis. "Kami juga meresensi sendiri buku-buku lama maupun baru," ujar pria berusia 32 tahun ini kepada iTempo pekan lalu.

Hal menarik lain yang ada di Indonesia Buku adalah program "pengadilan buku". Pengadilan dalam program ini mirip pengadilan yang sebenarnya. Bedanya, sementara pada pengadilan sebenarnya yang diadili adalah manusia, di pengadilan ini bukulah yang menjadi terdakwa.
Buku-buku yang diajukan ke sidang bakal didakwa alias "dikuliti" luar-dalam oleh para anggota dewan buku dari Indonesia Buku. Dewan penilai ini berperan sebagai jaksa penuntut buku sekaligus hakim yang akan menentukan apakah sebuah buku layak dibaca atau tidak. Persidangan biasanya dilakukan dua kali dalam sebulan. “Karena baru seumur jagung, baru enam buku yang kami sidangkan."

Muhidin sendiri berperan sebagai panitera yang menyediakan buku serta membuat berita acara pemeriksaan yang akan diposting di situs Indonesia Buku. "Program ini dibuat karena buku bukanlah sebuah benda suci atau tak dapat diutak-atik," kata Muhidin, yang masih aktif berprofesi sebagai penyunting.

Hasilnya, buku yang disidangkan bisa saja divonis sebagai buku yang layak baca atau sebaliknya, dianggap buku "rombengan" alias tidak mutu. Meski disidangkan, pihaknya mempersilakan pengarang buku membuat pleidoi atau pembelaan layaknya sidang sebenarnya.
Pihaknya menetapkan kriteria buku yang bisa diresensi atau disidangkan di Indonesia Buku. Kriteria utamanya adalah harus buku Indonesia atau buku terjemahan tapi tetap membahas Indonesia. Buku yang bisa disidangkan juga tak harus selalu buku yang memicu pro-kontra di masyarakat, atau karya dari penulis terkenal. "Kita ambil tengah-tengahnya," kata lulusan IKIP Yogyakarta ini.

Selain membuat kronik perbukuan, pihaknya berencana melobi pemerintah agar dapat menerbitkan buku-buku yang usianya sudah lebih dari 50 tahun ke dalam versi digital. DIMAS

Sumber : http://www.tempo.co/read/news/2010/05/02/072244906/Merekam-Peristiwa-Perbukuan-Indonesia


Politik Perbukuan Indonesia Tak Jelas

KBR68H, Jakarta - Pemerintah dituding tak mendukung politik perbukuan sehingga buku-buku yang terbit tak mampu memberikan pencerahan pada masyarakat. Direktur Penerbit Komunitas Bambu, JJ Rizal mengatakan, sejak 1980-an sudah tak ada lagi politik perbukuan yang jelas.

Dia mencontohkan, dulu IKAPI bisa berjuang agar penerbit-penerbit mendapatkan pasokan kertas khusus untuk penerbit yang disubsidi pemerintah. Tapi sekarang tidak berlaku padahal bahan pokok buku itu kertas.

“Dari mayoritas pendiri bangsa ini memperlihatkan sikap yang kuat terhadap buku, sekarang saya sukar sekali menemukan orang yang punya sikap yang kuat terhadap buku,” tambahnya.

Rizal menambahkan, saat ini sulit menemukan buku yang berkualitas karena toko buku sudah disetir oleh kepentingan ekonomi dan pasar. Hal ini bisa menyebabkan peradaban Indonesia jalan di tempat.

“Bisa kita lihat dari merebaknya buku-buku yang mungkin kita tidak bisa anggap sebagai buku, redaksi semakin kompromis karena orientasinya pasar bukan lagi pengetahuan, visi perbukuan kita jadi hilang juga,” kata Rizal.

Kondisi ini juga mengakibatkan harga buku di Indonesia kian mahal. Menurut Rizal, semua hal yang terkait dengan buku dikenakan pajak mulai dari bahan pokok kertas, penulis, sampai  toko buku juga kena pajak jual beli.

“Sebenarnya buku-buku yang bermutu justru sangat penting, tapi kenyataannya kita sukar menemukan itu. Karena kalau kita bicara buku yang bermutu orang akan berpikir tidak laku, disitulah politik perbukuan menjadi penting. Pemerintah harus mengambil sikap untuk mendukung penerbitan buku-buku yang menurut saya mampu mengantarkan kita pada pencerahan, tapi kenyataannya dibiarkan saja bersaing.”         

Sumber : http://www.portalkbr.com/berita/nasional/2609294_4202.html

Mendesak, UU yang Mengatur Tentang Perbukuan



Selasa, 03 September 2013, 22:39 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Minat baca Indonesia saat ini masih rendah. Hal tersebut terjadi, karena Kementerian Pendidikan dan Budaya (Kemendikbud), belum menjadikan buku sebagai prioritas.
Untuk menggenjot minat baca di masyarakat, Anggota Komisi X DPR RI, Itet Tridjajati Sumarijanto menilai Undang-Undang yang mengatur tentang perbukuan mendesak untuk dibuat.
"Temuan buku berbahasa kasar, sebenarnya masalah kecil. Ada masalah yang lebih penting dan urgent, yaitu meningkatkan minat baca," ujar Itet kepada Republika, Selasa (3/9).

Menurut Itet, saat ini buku tidak menjadi prioritas Kemendikbud. Padahal, agar masyarakat Indonesia cerdas dan cepat maju, dibutuhkan buku dalam kehidupan mereka sehari-hari. Namun, faktanya saat ini minat baca masyarakat di Indonesia sangat kurang.

"Di Amerika, setiap satu tahun setiap orang membaca 30 judul. Sementara di Indonesia, dalam setahun masyarakatnya membaca nol buku," katanya.

Saat ini, menurut Itet, dewan sedang menyusun draf UU Perbukuan. Namun, masih dalam pembahasan. Itet berharap, setelah UU perbukuan disahkan, pemerintah melaksanakan aturan tersebut dengan membuat peraturan pemerintah (PP).

Selama ini, banyak aturan yang tidak berjalan karena belum ada PP-nya. "UU, banyak yang tidak dilaksanakan karena terganjal belum dibuatnya PP oleh pemerintah," katanya.
Sumber : Republika.co.id
http://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/13/09/03/msk3ic-mendesak-uu-yang-mengatur-tentang-perbukuan

Melalui Buku, Bawaslu Sulut Ajak Warga Ikut Awasi Pemilu



MANADO, KOMPAS.com - Badan Pengawasan Pemilu (Bawaslu) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) melakukan terobosan baru dalam mengajak masyarakat untuk terlibat pada pengawasan pelaksanaan Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, yakni melalui buku.

"Kegiatan ini pertama kali di Indonesia dan dimulai dari Sulut," ujar pimpinan Bawaslu Sulut, Johnny AA Suak ketika memberikan sambutan pada pembukaan Rapat Koordinasi (Rakor) Pengawasan Partisipatif terhadap Media Massa dan Ormas di Provinsi Sulut, Kamis (19/12/2013) malam.

Suak menjelaskan, Bawaslu Sulut ingin menerbitkan buku yang berisi bunga rampai pemikiran dari seluruh pemangku kepentingan dan masyarakat yang terlibat dalam pelaksanaan pemilu.

"Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyampaikan pesan kepada seluruh stakeholder pemilu dan masyarakat betapa besar pengaruhnya kalau kita secara bersama-sama mengawasi pemilu itu," ujar Suak.

Menurut dia, Pemilu yang langsung, umum, bebas dan rahasia (luber) dan jujur serta adil (jurdil) pada tahun 2014 nanti, hanya bisa dicapai jika masyarakat secara bersama-sama ikut terlibat. Bawaslu menyadari bahwa tenaga yang dimiliki sangat terbatas. Oleh karena itu, Bawaslu mengajak siswa dan mahasiswa ikut terlibat.

"Kami juga sudah menjangkau 135 sekolah di Sulut untuk melibatkan partisipasi pemilih pemula," jelas Suak.

Di Sulut sendiri terdapat sekitar 30.000 pemilih pemula. Bawaslu sendiri menargetkan di setiap kabupaten kota di Sulut ada 2.000 relawan pengawas pemilu yang direkrut dari pemilih pemula sebagai bagian pengawasan partisipatif.

"Bawaslu juga memandang penting untuk meminta bantuan dan dukungan dari media massa dan ormas untuk memberikan edukasi politik kepada stakeholder dan masyarakat. Dengan demikian, praktik-praktik yang menyimpang dalam pelaksanaan pemilu dapat dicegah sedini mungkin untuk menjadikan pemilu lebih baik," papar Suak.

Rakor yang dilaksanakan selama dua hari ke dapan nantinya akan melahirkan buku yang berisi pemikiran Peran Media Massa dan Ormas dalam Pengawasan Partisipatif Pemilu 2013 serta Bagaimana Peran Pemilih Pemula Dalam Pengawasan Partisipatif.

"Dua buku ini nanti akan coba kami gabungkan dan akan kita bawa ke Jakarta nanti sebagai cinderamata dari masyarakat Sulut untuk Bawaslu RI yang bisa diimplementasikan pada pelaksanaan pengawasan Pemilu 2014 nanti," harap Suak.

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2013/12/19/2302188/Melalui.Buku.Bawaslu.Sulut.Ajak.Warga.Ikut.Awasi.Pemilu?utm_source=WP&utm_medium=box&utm_campaign=Kknwp