Rabu, 30 Mei 2018

Munsi II : Sastra Sebagai Penjaga Kebhinekaan Indonesia


Penulis : Benjamin Tukan

JURNALTIMUR.COM,-  Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-II dua yang menghimpun sastrawan dan pegiat sastra dari seluruh ini Indonesia berlangsung meriah dan penuh antusias. Kali ini para sastrawan dan pegiat sastra yang bertemu khusus membicarakan sastra sebagai penjaga kebhinekaan Indonesia.


Munsi ke-II ini berlangsung di Jakarta Selasa hingga Kamis, 18-20 Juli 2017. Munsi ke-I diselenggarakan tahun lalu pada bulan Oktober 2016. Sementara penyelenggara kegiatan ini yakni 
Badan  Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.


Sebagai salah satu lembaga pemerintah yang peduli pada kehidupan dan perkembangan sastra Indonesia,Badan Bahasa memiliki tanggungjawab untuk mendukung kemajuan sastra Indonesia. Dengan kegiatan ini, para sastrawan dapat  bertemu dan bertukar pikiran mengenai masalah kesusastraan.


 Kegiatan  yang dibuka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ini bertujuan untuk menyediakan wadah untuk berdiskusi, berkarya, berbagi informasi dan bersilaturahmi antara sastrawan dan pegiat sastra.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy, Kepala Badan Bahasa Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum saat pembukaan Munsi II (Foto : Ben/JurnalTimur)


Dalam musyawarah para sastrawan ini diisi dengan beberapa kegiatan yakni, ceramah kesusastraan yang terdiri atas tiga panel, diskusi kelompok, dan pentas sastra. Hasil dari ceramah sastra dan diskusi kelompok akan menjadi bahan rekomendasi bagi pemerintah. Pada kesempatan ini juga diluncurukan Buku Antologi Sastra Munsi: Antologi Puisi, Cerpen dan Esai Klasik, serta Antologi Puisi Sastrawan Munsi I.


Tema Munsi ke-II yakni "Sastra sebagai Penjaga Kebhinekaan Indonesia",  dipilih untuk mengingatkan kembali bahwa melalui sastra masih dapat dirajut kebersamaan tanpa saling menafikan. Demikian juga keberagaam budaya, bahasa dan sastra Indonesia adalah modal bersama sebagai bangsa, bukan sebagai pemisah sebagaimana mencuat akhir-akhir ini.


Hasil yang diharapkan dari kegiatan ini diantaranya,  karya sastra Indonesia yang berkualitas, karya sastra Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat di negeri sendiri; terjemahan karya sastra Indonesia ke berbagai bahasa asing; karya sastra Indonesia tersebar ke kancah internasional dan karya sastra Indonesia sebagai pengingat dan pengikat keberagaaman etnik Indonesia.


Peserta kegiatan ini berjumlah 180 orang yang terdiri dari sastrawan hasil seleksi karya, sastrawan penyumbang puisi dalam Antologi Puisi Munsi 2016; dan undangan; pelaksana program Sastrawan Berkarya di Daerah 3 T, Pemenang Penghargaan Badan Bahasa dan pegiat sastra.


Para pembicara yang tampil dalam tiga hari kegiatan ini diantaranya, Ignas Kleden, Janet De Neefe, Radhar Panca Dahana, Suminto A. Sayuti, Abdul Hadi WM, Rusli Marzuki Saria, Riris K. Toha Sarumpaet, Seno Gumira Adjidarma dan Akhmad Sahal.


Ignas Kleden, Janet De Neefe dan Radhar Panca Dahana telah menjadi narasumber dalam Panel Diskusi I dengan tema "Sastra dan Kebhinekaan" yang berlangsung hari pertama kegiatan musyawarah, Selasa (18/7/2017).


Sementara dalam kesempatan dialog Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy dengan para sastrawan dan pegiat sastra Munsi ke II yang berlangsung  Selasa (18/07/2017) sore, muncul berbagai saran dari peserta dalam rangka memajukan kesusatraan daerah.


 Para pesera menyarankan agar Pemerintah Daerah dapat mefasilitasi sastrawan dan penulis daerah terutama berkenaan dengan karya sastra yang telah dibukukan untuk masuk ke sekolah-sekolah dan menjadi bacaan para siswa. Tak sekadar buku, para sastrawan pun diharapkan dapat menghidupkan sastra masuk sekolah.


Mendikbud yang mengaku hadir untuk menerima masukan dan saran para peserta Munsi ke II, menyetujui saran yang disampaikan peserta.  Mendikbud meminta agar kantor dan badan Bahasa di daerah dapat memfasilitasi program sastrawan masuk sekolah dan kampus. (*)



Prosesi San Juan- Pesta Rakyat Warga Tujuh Kampung

Dolo-dolo di depan Kapela Santa Ana Lebao, Usai Proses Sanjuan, (Foto : groupwa Sanjuanjabodetabek)

JURNALTIMUR.COM,- Pesta rakyat warga tujuh kampung (nagi) di Lebao Tengah -Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, berakhir dini hari, Senin, (26/06/2017). Namun begitu, suasana pesta masih terasa hingga Senin (26/06/2017) sore, saat peralatan pesta mulai dikembalikan, dan beberapa warga masih melanjutkan kegiatan terakhir di lingkungan masing-masing.


Pesta rakyat. Warga setempat menyebutnya dengan Pesta San Juan yang diambil dari nama Santo Yohanes Pemandi, pelindung paroki yang menaungi umat tujuh kampung diantaranya, kampung Gege Wahihali, Lebao, Kampung Tengah. Tabali, Riang Nyiur, Kota Sau dan Kota Rowidho.


Perayaan San Juan, dilaksanakan setiap tahun bertepatan dengan perayaan kegerejaan  24 Juni 2017 yakni perayaan Santo Yohanes Permandi. Kali ini lantaran tanggal 24 Juni jatuh pada hari Sabtu, maka perayaaan San Juan dilaksanakan keesokan harinya 26 Juni setelah umat menyelesaikan misa hari Minggu.


Untuk tahun ini, perayaan San- Juan dirayakan bersamaan dengan peringatan 65 tahun gereja Sanjuan. Dua minggu sebelum perayaan San-Juan, umat paroki mengadakan berbagai kegiatan menyongsong perayaan HUT 65 tahun paroki. Salah satunya adalah mengadakan seminar tentang Keluarga dengan mengusung tema, "Perkawinan : Jalan Menuju Persaudaraan Sejati".


Di luar kegiatan seminar, dirayakan berbagai perlombaan seperti pop singer. tarik tambang, dan kuliner. Kendati dari segi persiapan tergolong lebih meriah, kegiatan-kegiatan ini hanya melanjutkan dari kegiatan yang selalu diadakan setiap perayaan San Juan tiba.


Prosesi San-Juan

Perayaan San Juan ditandai dengan prosesi keliling kampung yakni membawa patung Yohanes Permandi mengelingi kampung untuk memberi kesempata kepada umat melakukan penghormatan, berdoa dan memberi tempat khusus bagi santo pelindung paroki.


Tujuh kampung memiliki armidanya sendiri-sendiri yang disesuaikan dengan keberadaan kapela. Kapela tak sekedar bangunan tempat umat berdoa, tapi kapela juga tempat seluruh aktivitas kerohanian dan kemasyarakan yang terjadi dalam kampung itu. Suka-duka masyarakat dalam kampung, selalu menjadikan kapela tempat berkumpul untuk berbagi dan merayakan.



Gereja San Juan Lebao

Dari kampung-kampung kecil, perayaan San-Juan bagai perayaan yang menyatukan. Warga tujuh kampung ini dari sejarahnya adalah warga yang memiliki jaringan kekeluargaan satu dengan yang lain. Melalui perayaan ini hubungan itu pun terjalin kembali.



Setiap anak yang lahir dan dibesarkan dalam kampung-kampung di wilayah ini, sejak kecil sudah diperkenalkan akan pesta rakyat ini. Saat perayaan San Juan tiba, warga diberi kesempatan untuk melayani Tuhan dengan mengambil tanggungjawab dalam urusan memperlancar jalannya prosesi.


Tak sampai di situ saja, perayaan ini mengajak setiap warga dan umat di wilayah ini untuk mengenang dan berdoa untuk para leluhur, menjalin kembali relasi persaudaraan karena konflik, dan bergembira bersama melalui  perayaan makan bersama yang selalu diakhiri dengan tarian dan dolo-dolo,


Perayaan San Juan telah menyatu dalam kehidupan anak-anak dan warga serta umat San Juan. Kembali ke kampung untuk merayakan San Juan jelas merupakan iktihar yang harus dipenuhi setiap tahun saat perayaan itu berlangsung,


San Juan 2017

Sebagaimana tahun sebelumnya, setiap prosesi tentu harus selalu dipersiapkan. Sejak Sabtu, (24/06/2017) warga tujuh kampung ini sudah keluar rumah, bertemu di kapela untuk mempersiapkan perayaan prosesi. Armida yang dilalui prosesi mulai dihiasi dan disediakan tempat khusus untuk meletakan Patung Yohanes Pemandi.

Patung Sanjuan di Gereja San-Juan


Tak kurang dari penataan armada, di jalan-jalan prosesi juga dipasang paku-paku bambu untuk meletakan lilin prosesi. Bagai kota yang diterangi lilin, perayaan itu tak sekedar membawa ingatan pada tahun yang terlewatkan, tapi lebih pada kesederhanaan, kekeluargaan, dan kekerabatan penduduk wilayah ini.


Di luar kegiatan itu, persiapan koor, dan petugas ibadat tak luput dari perhatian umat yang ada dalam kampung. Maklum ini perayaan kampung, perayaan dalam kampung.Semua harus ambil bagian.


Saat prosesi tiba, wilayah tujuh kampung ini, diterangi lampu-lampu lilin dan jalanan dipenuhi dengan hilir mudik orang yang hendak berurusan dengan perayaan. Dengan berjalan kaki, warga pergi ke kampung-kampung, bertemu sanak famili, berceritra sambil mencicipi hidangan yang tersedia. Usai misa di Gereja prosesi dimulai.


Minggu malam, (26/06/2017), jalanan yang dilalui prosesi ditutup sementara dari kendaraan yang lalu lalang. Suasana terasa begitu syahdu, walau kegembiraan tak bisa ditutupi.


Umat dan warga yang berjalan kaki dari satu kampung ke kampung lain menjadi pemandangan tersendiri malam itu. Semenara pintu-pintu rumah penduduk dibiarkan terbuka menanti siapa saja yang datang untuk bertamu.


Begitu menyatunya warga tujuh kampung ini terlihat malam itu, saat perayaan San Juan menjadi tugas bersama untuk mensukseskan.


Akhir perayaan, umat kembali ke kampungnya masing-masing. Masih dalam rangkaian perayaan, umat melanjutkan tradisi yang dirayakan dalam kampung itu.  Malam berakhir dengan dolo-dolo dan makan bersama. Usai perayaan masih ada lagi perayaan yakni "serah punto dama" atau penyerahan lilin yang  menandai penyerahan tugas untuk tahun berikutnya.


Awal Mula


San Juan- menjadi pesta rakyat  sekaligus pesta iman yang berhubungan dengan perayaan Hari Yohanes Pembatis pelindung gereja. Umat tujuh kampung memang merupakan warga yang punya hubungan kekeluargaan yang sangat dekat.


Di wilayah ini, awalnya terdapat sebuah korke (pusat ritual kepercayaan asli). Tempatnya di Pusi Goa, lingkungan Lebao sekarang ini. Pada suatu masa terjadi gelombang imigrasi ke wilayah ini. Orang-orang yang tinggal di pesisir pantai, membentuk perkampungan yang dikenal dengan nama Kampung Tengah dan Kampung Kota (Kota Sau dan Kota Rowidho).


Proses kawin mawin membawa perkembangan yang luar biasa dalam membentuk tujuh kampung di wilayah ini. Sebelum menjadi paroki, tujuh kampung ini menjadi satu stasi dari paroki Reinha Rosari Larantuka. Bahkan dahulu kala, stasi ini pernah menjadi bagian wilayah paroki Ignatius Waibalun, dan mendapat pelayanan iman dari Wureh, kampung seberang di pulau Adonara.

Pada tanggal 24 Juni 1903 merupakan awal dari prosesi San Juan. Prosesi ini hanya berlangsung di seputaran kapela. Baru pada tahun 1913, atas kesepakatan umat Kampung Tengah dan Kota Sau, jalannya prosesi berlangsung hingga Kota Sau.


Pada tahun 1936, Pater Eben SVD, bersama Bapak Sandore Baon mulai menggerakan umat untuk mulai pembangunan gereja. Kurang lebih 120 kepala keluarga bahu membahu membangun gereja. Pada 1938 gereja selesai dibangun dan diresmikan.


Setelah gereja diresmikan, Pater Eben mengadakan prosesi Sakramen Maha Kudus bersamaan dengan prosesi San Juan yang membawa Patung Yohanes Pemandi. Rute Prosesi menyinggahi lima armida yakni, Armida Kampung Tengah, Lebao, Riang Nyiur, Tabali dan Kota Sau.


Saat pengresmian, sudah mulai diadakan upacara "Tukar Rengki" atau saling menukarkan persembahan makanan diantara warga kampung.  Gereja Lebao Tengah baru resmi menjadi paroki tahun 1951 dengan pastor paroki yang pertama P. Yan Van Asten, SVD.


Di Paroki ini ada dua Patung Yohanes Pembabtis. Patung Yohanes Pembatis yang tersimpan di gereja adalah patung pelindung paroki. Tapi satunya lagi ada di Kapela Kampung Tengah.


Kisah Patung Yohanes Pembatis di Kampung Tengah umumnya sama dengan beberapa Patung peninggalan Portugis yang ada di Larantuka, yakni terbawa hanyut dan terdampar di pantai wilayah Larantuka.


Menurut ceritra, Patung Yohanes Pemandi ditemukan di pantai di Kampung Tengah, yang kemudian menjadi milik Dominggo Fernandez dan Djuan Labina. Patung ini menjadi patung kramat, sama seperti patung-patung lain yang ada di kapela dalam wilayah tujuh kampung.


Kendati perayaan ini tak semeriah perayaan prosesi Jumat Agung di Larantuka, Konga dan Wureh, dari sejarah dan tradisi sebenarnya perayaan ini dapat disejajarkan dengan perayaan tradisi keagamaan lain yang ada di wilayah ini.


Dari segi patung-patung peninggalan tempo dulu, kapela-kapela yang ada di Paroki San Juan menyimpan juga berbagai patung peninggalan. Selain di Kampung Tengah, di Kota Rohwido, tersimpan patung Tuan Meninu yang menjadi bagian penting dalam perayaan prosesi Jumat Agung di Larantuka, Di Kota Sau ada patung Antonius Padua.


Di Gege, dalam kapela Nozsa Senhora tersimpan beberapa patung peninggalan. Raja Larantuka Raja Andre DVG II pada masanya punya perhatian akan penataan patung-patung di wilayah ini.     (Benjamin Tukan)


OBITUARI : Politisi Papua Tonny Rahail Berpulang


Tonny Rahail

Penulis : Benjamin Tukan


JURNALTIMUR.COM,- Politisi Papua Anthonius Rahail atau biasa disapa Tonny Rahail, Rabu 14 Juni 2017  telah pergi meninggalkan Papua untuk selamanya. Ia kembali ke rumah Bapa di surga.


Mendengar berita meninggalnya Tonny Rahael, orang-orang yang selama ini telah berteman dengannya mengungkap rasa kaget sekaligus terharu, karena tak menyangka sahabatnya begitu cepat kembali ke rumah Bapa.


Ada rasa rindu untuk berjumpa dengannya sekali waktu, karena setiap perjumpaan dengannya selalu saja membawa harapan untuk mengulangi pertemuan. Tetapi Tuhan punya rencana tersendiri. Semoga om Tony berbahagia di surga.


Tonny Rahail adalah sosok politisi yang sederhana. Ia suka bertegur sapa dengan siapa pun. Tidak saja pergaulan menembus batas suku dan agama, tapi juga usia. Ia tidak segan-segan bergaul dan berceritra dengan generasi seusia anak-anaknya untuk pembicaran serius maupun sekadar menghabiskan waktu.

Karakternya  santun, lemah lembut, cenderung lebih mendengar ketimbang menuntut didengar.

Ia sosok yang santun, sangat menghargai teman diskusi tanpa memandang tua muda, banyak pengalaman atau tidak, Kasar atau lembut, semuanya dipandang sama.

Sebagai politisi, Tonny Rahail memiliki pembawaan yang komunikatif. Ia pandai dalam melakukan loby-loby politik, dan dalam situasi yang terlampau serius, ia piawai mengantar peserta diskusi dalam suasana santai penuh persaudaraan.

Sebagai politisi yang tergolong sepuh, Tonny Rahail selalu menyiapkan waktu untuk membagi pengalaman, kendati sorot matanya tetap dalam pengamatan politik hari ini dan masa depan Papua. Dengan sikapnya ini, ia sering dijuluki sebagai guru politik yang hebat.

Hidup Tonny Rahail seluruhnya untuk Papua. Mengenang perjalanan hidup sebagai politisi Papua pada jamannya, Tonny dikenal sebagai salah satu inisiator usul Inisiatif di DPR RI yang menyangkut Otonomi Khusus (Otsus) Papua.

Sebagai anggota DPR RI  FKKI ( Fraksi Kesatuan Kebangsaan Indonesia) 1999-2004, kerja politiknya untuk mengusung RUU Otsus Papua berbuah hasil.


Sungguh kerja yang luar biasa. Selain Tonny Rahail, ketika itu ada juga Simon Patris Morin dan Alex Hasegem dan beberapa Tokoh Papua berusaha untuk menggolkan RUU Otsus ini.

Usulan itu kemudian oleh Ketua DPR waktu itu Akbar Tanjung mengetuk palu di Bamus dan draf usulan dari Papua dikukuhkan menjadi draf utama pada Pansus RUU Otsus Papua dan draf dari Pemerintah sebagai pendamping.

Tonny Rahail bersama sejumlah tokoh berhasil meyakinkan seluruh fraksi di DPR RI untuk menerima dengan bulat draf Otsus.Dibentuknya Pansus  memilih Sabam Sirait ( PDIP), sebagai Ketua Pansus, Ferry Mursyidan Baldan ( FPG) dan Effendi Choiri ( FPKB) sebagai Wakil Ketua Pansus.

Pembahasan demi pembahasan pun terjadi. Alot namun hanya butuh 2 minggu pasal pasal krusial dari RUU Otsus berhasil menemukan kompromi yang demoratis.


Tonny Rahail tidak berhenti mengkawal RUU menjadi undang-undang Otsus, tapi dalam perjalanan ia pun harus terlibat dalam membidani kelahiran Majelis Rakyat Papua (MRP). Ini tugas yang harus ia ikut, karena ia sudah ikut melahirkan undang-undang Otsus.

Otsus Papua sudah menjadi bagian hidupnya. Perjalanan Otsus ini yang telah memasuki usia 15 tahun, bukan sesuatu yang tidak ia amati. Ia selalu meluangkan waktu mencermati pelaksanaan otsus. Ia selalu berharap agar pelaksanaannya sungguh konsisten.

 Tahun 2022, otsus akan berakhir. Ada yang masih ia harapkan agar orang Papua sungguh memanfaatkannya bagi kesejahteraan. Artinya, Otsus musti menyentuh orang asli Papua.


Tonny Rahail seorang politisi senior dan pengamat masalah sosial politik Papua yang ulung. Beliau meninggalkan seorang istri dan 3 orang anak laki laki. Selamat jalan Pak Toni  (Ben)

Imam Prasodjo: “Sekarang Eranya Semua orang jadi Komentator”

Sosiolog Imam Prasodjo saat menjadi pembicara dalam Diskusi yang digelar  Tempo Institute  di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017)

Penulis : Benjamin Tukan

JURNALTIMUR.COM,- Perkembangan teknologi informasi yang tengah menerpa dunia termasuk Indonesia saat ini, membawa perubahan yang luar biasa dalam interaksi antar manusia termasuk dalam hal literasi. Perkembangan ini pun kemudian dituntut harus menuju pada ekonomi berkeadilan.


Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan perkembangan yang dibawa teknologi informasi di Indonesia sangat luar biasa yang menyebabkan semua orang ikut mendistribusikan informasi dan semua orang mengkonsumsi informasi.


“Semua menjadi jurnalis. Sekarang eranya semua orang jadi komentator,” kata Imam Prasodjo dalam diskusi yang digelar Tempo Institute di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017).


Diskusi brtajuk "Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan” dipandu Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim.


Menurut Imam Prasodjo, apa yang terjadi dulu tahun 1970-an, hanya orang-orang tertentu saja yang jadi komentator, karena saat itu media terbatas,  hanya TVRI satu-satunya televisi, sementara sekarang sudah ada macam macam televisi,  koran dan sosial media.


Fenomena ini merupakan sebuah interaksi baru. Mendadak semua orang bisa terkenal hanya karena bermain gedget. Perubahan yang terjadi adalah digital family.   Orang maju karena konektif dengan banyak orang. Semua tempat menjadi tertinggal karena tidak ada koneksi.


Dikatakannya, era sekarang juga membawa orang tidak lagi menyatu, melainkan tersegmentasi ke dalam kelompok. “Saya tadi berpikir bahwa  dengan semua orang punya akses informasi maka semua jenis informasi bisa kita dibandingkan. Ternyata tidak. Orang berkomunikasi dengan temannya yang cocok. Akhirnya orang pun tidak menyatu tapi menjadi segementasi,"ujarnya


Terkait dengan literasi, menurutnya literasi yang dibicarakan selama ini berhubungan dengan offline culture, namun yang terjadi sekarang ada juga online culture, bahkan yang offline tergerus oleh online culture.


"Kedepan orang mulai bicara mana negara maju, mana yang tidak. Negara  maju  memiliki jejaring. Orang maju adalah yang konektif dengan banyak orang, " terangnya.


Di tengah membanjirnya informasi, dia mengusulkan agar informasi-informasi yang tercecer tersebut perlu dirangkai menjadi sebuah pengetahuan. Dari pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis inilah baru kita bisa mengambil keputusan.


"Saya membayangkan literasi itu tidak sekedar baca tulis, tapi sampai mendistribusikan pengetahuan. Pengetahuan yang banyak perlu  di-manage," ujarnya.



Selain Imam Prasodjo, pembicara lain, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Hilmar Farid, Afi Nihaya Faradisa, dan pemerhati Sastra Anak, Murti Bunanta.

Literasi Tak Sekadar Baca-Tulis


Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid menjadi pembicara dalam Diskusi Literasi yang digelar Tempo Institut, Senin 5 Juni 2017. 
Penulis : Benjamin Tukan


JURNALTIMUR.COM,- Literasi yang sekarang banyak menjadi perhatian komunitas ternyata tak sekadar persoalan minat baca dan menulis, dan tidak berhenti hanya memperlapang akses terhadap bacaan.


Di tengah membanjirnya informasi yang didukung dengan kemajuan teknologi informasi, persoalan literasi mesti terarah pada kemampuan menciptakan dan mendistribusikan pengetahuan, hingga pengetahuan itu dapat bermanfaat bagi ekonomi berkeadilan.


Perhatian terhadap literasi pun mesti melihat perkembangan yang terjadi di sekolah terutama dalam perkembangan bacaan untuk anak-anak. Lingkungan sekolah dan peran komunitas dalam masyarakat dipandang sangat penting menumbuhkan budaya literasi.


Pendapat ini mengemuka dalam diskusi yang digelar Tempo Institut di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017). Diskusi  bertajuk "Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan” dipandu Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim.


Narasumber dalam diskusi ini Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid, Sosiolog Imam Prasodjo, Pemerhati Sastra Murti Bunanta dan Afi Nihaya Faradisa.


Hilmar Farid mengatakan masalah literasi bukan lagi masalah akses. Anak-anak habis watunya untuk membaca pelajaran dan problem pendidikan yang paling mendasar adalah jumlah pelajaran.


"Mungkin full day school yang sebetulnya jadi jawaban karena yang diinginkan adalah menambah waktu belajar mengurangi pelajaran. Dengan begitu, anak-anak lebih banyak punya waktu berinteraksi dengan sesama dalam urusan pengembangan diri,"kata Fay sapaan Hilmar Farid.


Menurut Fay, anak-anak sekarang banyak yang stress karena selama ini beban pelajaran yang terlalu banyak dipundak. "Itu beban dan saya kira itu sudah menjadi pengetahuan umum," kata pemikir kebudayaan ini.


Menurutnya, dalam implementasi pendidikan di sekolah, kecendrungan menyelesaikan teknis sangat kuat dengan variasi di setiap satuan pendidikan. Karena itu dalam hubungan dengan literasi, sarannya, satuan pendidikan mesti terhubung dengan aktivitas literasi.


Dia menyebutkan, sekarang ada gerakan gerakan literasi nasional  yang dikerjakan Dirjen PAUD yakni menggabungkan kreativitas literasi dengan satuan pendidikan.


Dia mengakui, walau bukan ahli dalam perkembangan pendidikan anak, Indonesia perlu mempunyai kanon yang mencantumkan karya yang kita anggap pantas harus dibaca seoran anak selama masa sekolah, minimal dalam 12 tahun.


Minat terhadap membaca mesti semacam kewajiban untuk membaca, memberikan landasan yang sama agar minat bisa tumbuh, walau sebetulnya tidak semua pekerjaan memerlukan membaca.


"Rasanya sekarang ini dibandingkan 20 tahun lalu, minat baca tidak turun. Anak remaja sekarang dengan tablet disuguhkan literasi yang menggabungkan image, bunyi menjadi satu. Proses literasi tidak bergantung dengan aksara. Apakah ini kurang literasi dengan sebelumnya saya kira tidak.  Digital leterasi menjadi besar. Anak-anak sudah instingtif," katanya.


Dengan perkembangan teknologi digital, dia menyarankan agar masyarakat terus memperbaharui kemampuan literasi dengan tidak pandang usia dan pendidikan.


Afi Nihaya Faradisa mengakui anak-anak sekolah sekarang dibebani dengan banyaknya pelajaran. "Di sekolah 16 subyek mata pelajaran yang harus dituntaskan. Jika tidak meraihnya, nilai kita tidak tuntas. Waktu untuk membaca tidak ada kalau tidak meluangkannya,"kata Afi.


Menurut Afi, anak-anak atau teman-teman seusianya tidak tertarik dengan bacaan-bacaan lain di luar bacaan pelajaran, karena yang dianggap buku adalah buku pelajaran. Dia menyarankan agar pemerintah dapat mengurangi pelajaran dan sekolah lebih mengarahkan perhatian pada menumbuhkan minat baca.


Pemerhati Sastra Murti Bunanta mengatakan belum ada perhatian yang serius terhadap bacaan anak-anak termasuk masih minimnya kritikus sastra anak.



Sementara Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan literasi harus masuk pada soal pengemas dan pendistribusian pengetahuan. Pengemas pengetahuan memerlukan kerja tersendiri, Dari pengetahuan baru kemudian dapat digunakan untuk menjawabi kebutuhan termasuk dalam bidang ekonomi.***

Senin, 28 Mei 2018

Ini Pidato Lengkap Sri Mulyani di Kampus UI Hari Ini

Selasa, 26 Jul 2016 15:42 WIB

Depok - Sri Mulyani Indrawati, mantan Menteri Keuangan di era pemerintahan SBY yang kini menjadi Managing Director dan Chief Operating Bank Dunia, hari ini memberikan ceramah kepada para mahasiswa-mahasiswi di Kampus Universitas Indonesia (UI) Depok.

Sri Mulyani memberikan kuliah umum dengan tema 'Yang Muda Yang Beraksi: Peranan Pemuda dalam Mensukseskan Pembangunan Berkelanjutan yang Inklusif' di Auditorium Djokosetono, Fakultas Hukum UI mulai pukul10.30 WIB. Berikut isi lengkap pidatonya:

Selamat pagi, selamat datang semuanya.

Terima kasih kepada Universitas Indonesia, yang telah menjadi tuan rumah untuk acara yang menarik ini. Saya senang dapat kembali ke kampus, ke almamater saya.

Di sinilah saya mulai belajar ilmu ekonomi, sebuah disiplin ilmu yang telah membekali saya dengan pengetahuan teknis tentang berbagai masalah pembangunan dan ekonomi. Di Universitas Indonesia jugalah idealisme dan pemikiran saya mengenai hal-hal politik mulai tumbuh dan berkembang.

Selama belajar, mengajar dan melakukan penelitian di UI, saya melihat dan terlibat dengan proses transisi Indonesia menuju demokrasi dan menerapkan desentralisasi dan otonomi daerah. Saya juga melihat bagaimana Indonesia menangani krisis ekonomi 1997/1998.

Pengetahuan teknis yang saya pelajari sangat membantu memahami masalah dengan objektif dan akurat, yang menghasilkan pemikiran, solusi kebijakan yang kredibel yang sangat bermanfaat pada saat saya mengemban tugas sebagai pejabat negara. Kini, saya menjabat sebagai Managing Director dan Chief Operating Officer Bank Dunia.

Di Bank Dunia, kami memiliki 2 tujuan. Pertama, mengentaskan kemiskinan ekstrem di negara-negara berkembang. Kedua, memastikan meratanya kesejahteraan masyarakat.

Pengetahuan dan pengalaman saya di Universitas Indonesia, maupun sebagai mantan Menteri Keuangan, sangat relevan dalam memahami masalah pembangunan negara-negara berkembang.

Setiap saya bertemu dan membahas masalah pembangunan di negara-negara klien World Bank, dan mengevaluasi opsi-opsi kebijakan dalam konteks politik yang mereka miliki, saya selalu teringat kembali akan berbagai hal yang telah saya pelajari di sini.

Di Washington DC, saya sering menerima kunjungan kelompok pelajar dan mahasiswa Indonesia yang memiliki keingintahuan yang begitu tinggi.

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan adalah, apa yang dapat dilakukan kaum muda Indonesia agar bisa meraih kesuksesan di dalam negeri maupun arena global?

Pertanyaan ini sangat penting. Kini, anak muda merupakan sepertiga dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah mereka melebihi 65 juta warga. Di tangan generasi muda inilah terletak kunci keberhasilan negeri ini.

Pada saat yang sama tantangan lingkungan semakin sulit. Contohnya, saat ini di Bank Dunia, kami mengkhawatirkan mengenai rapuhnya pertumbuhan ekonomi dunia yang sering disertai gejolak. Pada bulan Juni, kami merevisi proyeksi pertumbuhan dunia ke 2,4%, turun dari proyeksi kami pada bulan Januari yang sebesar 2,9%.

Melambatnya pertumbuhan ekonomi di Tiongkok dan perubahan strukturan ekonomi di Tiongkok sangat berpengaruh di seluruh dunia. Saya baru kembali dari Argentina minggu lalu, di mana melemahnya ekspor ke Tiongkok telah melemahkan ekonomi di Argentina, yang memiliki 35% ekspor ke Tiongkok.

Kondisi yang sama dialami negara-negara di Amerika Latin, Afrika, Asia Tengah, serta Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Tiongkok menerima 11% barang ekspor Indonesia.

Negara-negara berkembang yang selama dua dekade terakhir menjadi mesin pertumbuhan dunia, saat ini menghadapi tantangan berat, ibarat badai yang datang bersamaan secara sempurna, atau 'perfect storm'.

'Perfect storm' ini berupa melemahnya ekonomi dan perdagangan dunia, perlambatan dan perubahan struktural ekonomi Tiongkok, rendahnya harga-harga komoditas, menurunnya aliran modal ke negara berkembang, meluasnya konflik dan serangan terorisme, serta perubahan iklim global.

Negara-negara pengekspor komoditas, dengan jutaan penduduk miskin, mengalami pukulan paling keras. Sebanyak 40% revisi penurunan ekonomi dunia berasal dari kelompok negara-negara ini.

Kondisi seperti ini memerlukan kerja sama yang semakin erat dan kuat dan koordinasi kebijakan antar negara. Kerja sama ini dapat membangun kembali kepercayaan, dan menghilangkan halangan perdagangan dan investasi untuk menunjang produktivitas dan memulihkan pertumbuhan ekonomi.

Namun yang terjadi di dunia adalah sebaliknya.

Di berbagai belahan dunia, populisme tengah bangkit dan bahkan meluas. Kesediaan untuk bekerja sama antar negara berada pada titik terendah sepanjang sejarah. Apa yang terjadi di Inggris dengan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa (Brexit) adalah salah satu contoh.

Bagaimana Indonesia harus menyikapi lingkungan dan kecenderungan global tersebut?


Hadirin yang terhormat,

Indonesia memiliki potensi besar dan dapat menjadi pelaku global yang disegani. Namun potensi ini harus diwujudkan menjadi kinerja dan prestasi.

Untuk itu diperlukan generasi muda yang percaya diri, dengan visi luas dan ambisi dan kreativitas yang kuat untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan guna menciptakan kemakmuran, kemajuan peradaban, dan keadilan sosial.

Berbagai data memberikan optimisme, namun juga mengingatkan kita akan besarnya tantangan untuk memajukan Indonesia. Bagaimana kita bisa melangkah maju bersama untuk masa depan lebih baik?

Pertama, jadilah bagian dunia yang berperan aktif.

Dengan globalisasi, dunia menjadi 'lebih kecil'. Ibaratnya seperti sebuah kampung, atau 'global village' yang menyatukan umat manusia, bisnis, modal, teknologi, informasi, dan pengetahuan yang terus tersebar tanpa mengenal zona waktu ataupun perbatasan negara.

Globalisasi memberikan peluang untuk menciptakan peluang untuk menciptakan kemajuan perekonomian semua negara di dunia.

Negara-negara yang sukses mengentaskan kemiskinan dan mencapai kemakmuran adalah mereka yang mampu memanfaatkan globalisasi, serta membangun ketahanan dan menjaga diri dari gejolak globalisasi.

Indonesia tidak terkecuali dalam konteks ini. Bagi bangsa Indonesia, visi global dan cita-cita untuk mendunia sudah lama ditanamkan oleh pendiri bangsa ini.

Dalam kurun waktu lebih dari 50 tahun terakhir, Indonesia telah memanfaatkan perdagangan dan investasi global untuk mengatasi kemiskinan dan memajukan pembangunan.

Meningkatnya integrasi ASEAN merupakan peluang besar bagi Indonesia. Perdagangan intra-ASEAN mencapai lebih dari US$ 600 miliar per tahun, dan perdagangan dengan negara di luar ASEAN mencapai di atas US$ 1,9 triliun per tahun.

Integrasi ASEAN yang lebih mendalam dapat menjadi katalis dalam mentransformasi produktivitas tenaga kerja Indonesia.

Indonesia memiliki rata-rata upah di bidang manufaktur terendah. Namun biaya per unit tenaga kerjanya relatif tinggi, mencerminkan produktivitas tenaga kerja yang belum baik. Ini tantangan besar.

Integrasi pasar global juga menghendaki dukungan infrastruktur untuk konektivitas yang efisien dan kompetitif. Biaya perdagangan di Indonesia saat ini relatif tinggi, sekitar 130% dibandingkan 90-110% bagi Malaysia, Vietnam, dan Thailand.

Baru-baru ini, Indonesia melakukan paket kebijakan perdagangan yang cukup signifikan, untuk mengurangi hambatan perdagangan dan investasi. Ini perkembangan yang baik, karena sebelumnya, menurut laporan Global Alert, Indonesia termasuk salah satu negara yang paling sering menerapkan hambatan perdagangan.

Fokus pemerintah untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di seluruh Kepulauan Indonesia merupakan langkah yang tepat.

Saya berharap ke depan, Indonesia akan terus memelihara dan memiliki kebijakan keterbukaan, yang harus disertai upaya memperkuat kualitas sumber daya manusia dan kualitas kelembagaan. Ini penting untuk menopang peran dan kepemimpinan Indonesia di kawasan Asia maupun di arena global.

Kepemimpinan Indonesia tidak saja baik untuk bangsa Indonesia, tetapi juga baik dan diperlukan di kawasan dan di dunia.

Dan ini membawa saya pada rekomendasi kedua: Jangan melupakan mereka yang tertinggal.

Salah satu kekhawatiran terbesar saya adalah meningkatnya ketimpangan di antara masyarakat. Indikator kesenjangan (koefisien gini) Indonesia meningkat tajam dari 30 pada tahun 2003, ke 41 pada tahun 2014. Ketimpangan yang sangat tajam bisa menghambat potensi pertumbuhan jangka panjang Indonesia.

Masalahnya, ketimpangan di Indonesia banyak ditentukan oleh hal-hal yang di luar kendali penderita.

Sepertiga dari ketimpangan di Indonesia disebabkan oleh empat faktor pada saat seseorang lahir: provinsi di mana mereka lahir, apakah tempat lahir itu desa atau kota, apakah kepala rumah tangga perempuan, dan tingkat pendidikan orang tua.

Dengan kata lain, kesenjangan pendapatan bukan sekedar dampak dari ketimpangan semata, tetapi akibat adanya ketimpangan peluang.

Anak-anak Indonesia yang lahir dengan ketimpangan tersebut akan sulit mengatasi ketimpangan di masa depannya. Ketidakadilan ini harus diatasi segera.

Faktor pertama yang menentukan adalah layanan kesehatan.

Sekitar 37% balita Indonesia mengalami stunting, atau tidak menerima nutrisi yang cukup, mulai dari kandungan hingga usia 2 tahun. Stunting mengakibatkan otak seorang anak kurang berkembang. Ini berarti 1 dari 3 anak Indonesia akan kehilangan peluang lebih baik dalam hal pendidikan dan pekerjaan dalam sisa hidup mereka.

Ini adalah musibah bagi Indonesia. Tingkat stunting di Indonesia sangat tinggi dibanding negara tetangga. Misalnya, tingkat stunting di Thailand adalah 16%, dan di Vietnam 23%.

Belum lama ini saya menerima kunjungan pejabat departemen kesehatan Indonesia yang menjelaskan bahwa pemerintah mulai menangani kasus stunting secara serius. Ini upaya bagus yang perlu ditingkatkan dan dipantau hasilnya.

Saya berharap program memerangi stunting dapat berhasil, karena beberapa negara, seperti Peru, telah berhasil menurunkan stunting secara kredibel dalam waktu cukup singkat.

Masalah kesehatan berkaitan baik dengan ketersediaan anggaran maupun kualitas penggunaan anggaran. Tingkat belanja kesehatan terhadap PDB di Indonesia adalah terendah kelima di dunia, yaitu 1,2% pada tahun 2014. Angka ini termasuk belanja untuk sistem jaminan kesehatan nasional. Selain masalah jumlah anggaran, masalah cara membelanjakan anggaran juga sangat penting.

Saat ini akses layanan kesehatan di desa-desa mengalami penurunan, dan lebih dari 40% penduduk di Kalimantan Barat, Maluku, dan Sulawesi Barat memerlukan lebih dari satu jam untuk mencapai rumah sakit umum, dibanding 18% secara nasional.

Hanya tiga provinsi yang memenuhi rekomendasi World Health Organization (WHO) dengan adanya satu dokter untuk tiap 1.000 orang penduduk.

Upaya Indonesia untuk meratakan akses layanan kesehatan yang layak perlu ditingkatkan, bila kita ingin memiliki generasi masa depan yang lebih baik.

Faktor kedua yang berperan dalam ketimpangan peluang adalah belum meratanya kualitas pendidikan di Indonesia.

Sekolah di desa berpeluang lebih kecil untuk memiliki guru terlatih dan fasilitas yang baik. Ketidakhadiran guru pun menjadi masalah.

Akibatnya, capaian pendidikan sangat bervariasi antara kabupaten dengan kota, dan antar provinsi. Sebagai contoh, anak kelas 3 SD di Jawa bisa membaca 26 huruf lebih cepat per menit dibanding anak di Nusa Tenggara, Papua, atau Maluku.

Angka partisipasi juga belum ideal.

Pada tingkat SMA, angka partisipasi sekolah turun drastis bagi penduduk miskin. Hanya 33% anak-anak dari kelompok 20% termiskin tetap sekolah pada tingkat SMA, dibandingkan dengan 76% untuk kelompok dua puluh persen terkaya.

Kualitas siswa Indonesia juga dapat diukur dari peringkat test PISA, di mana posisi Indonesia adalah di urutan ke 64 dari 65 negara. Tes ini menilai kemampuan siswa dalam bidang matematika dan pemahaman membaca.

Anggaran pendidikan pemerintah mengalami kenaikan besar sejak reformasi. Fokus sekarang adalah pada peningkatan kualitas dan hasil pendidikan.

 Beberapa data membuat saya optimis.

Ada lebih dari 50 juta pengguna Twitter di Indonesia, dan Jakarta disebut sebagai kota pengguna Twitter teraktif di dunia.

Bagaimana kita dapat memanfaatkan dunia teknologi yang kita kagumi ini?

Bagaimana kita tidak hanya menjadi penerima teknologi dan informasi namun juga produktif sebagai pencipta?

Saya lihat perkembangan positif akhir-akhir ini dalam inovasi aplikasi teknologi yang telah menciptakan bisnis seperti Go-Jek, yang memberikan inspirasi peluang bisnis, terutama bagi generasi muda. Indonesia mampu memanfaatkan teknologi untuk aktivitas kreatif dan produktif.

Jangan lupa, generasi muda saat ini adalah generasi yang hidup pada masa demokratisasi pengetahuan. Saat ini, kita semua memiliki akses informasi yang instan melalui smartphone. Saya juga melihat banyak kampus memiliki fasilitas wi-fi, sehingga mahasiswa setiap saat mampu terkoneksi dengan informasi dan data.

Sewaktu saya belajar di UI 35 tahun yang lalu, teknologi komputer belum secanggih seperti saat ini, dan data statistik masih sangat terbatas.

Bayangkan, untuk membuat model regresi ekonomi, data Produk Domestik Bruto Indonesia hanya tersedia 20 tahun sejak 1970. Fasilitas buku dan perpustakaan tidak semegah seperti sekarang.

Hari ini, hanya perlu satu klik untuk mendapatkan informasi dan data yang dicari. Ironisnya, melimpahnya informasi ini tidak otomatis membuka pikiran dan wawasan kita.

Bahkan ada kecenderungan wawasan masyarakat menjadi menyempit. Saat ini seseorang semakin mudah melakukan justifikasi asumsi dan stereotype dalam menilai suatu masalah atau pihak lain.

Tidak suka? Ya tidak usah dibaca atau didengarkan. Sangat mudah bagi kita menghilangkan sisi lain yang berseberangan dengan kita. Kita hanya membaca berita dan informasi yang sesuai dengan kecenderungan pandangan kita.

Diskusi hanya satu versi dan semakin sedikit diskusi yang seimbang dan melihat perbedaan pandangan. Polarisasi menjadi semakin tajam dan jauh.

Kita harus terus berupaya untuk membangun jembatan antar perbedaan pandangan apabila kita ingin mempertahankan kebhinekaan Indonesia.

Selalu bersedia mendengar dan memahami mereka yang tidak sependapat dengan kita memang tidak mudah.

Para populis sering bersuara lebih keras, dengan pandangan hitam putih dan memanfaatkan ketakutan dan kekhawatiran masyarakat. Mereka sering menawarkan solusi magis dan mudah untuk berbagai masalah yang teramat kompleks. Mereka banyak yang menjual ilusi yang sering laku dibeli masyarakat yang haus solusi cepat.

Dunia pendidikan seperti Universitas Indonesia harus mampu memelihara lingkungan saling mendengar perbedaan dan saling berargumentasi yang sehat dan saling menghormati untuk terus memperbaiki kualitas peradaban kita.

Hal lain yang membesarkan hati adalah semakin banyak generasi muda yang semangat belajar di tingkat pasca sarjana.

Tahun lalu, sekitar 4.500 mahasiswa sarjana dan pasca sarjana mendapat beasiswa LPDP untuk belajar di luar negeri dan di Indonesia.

Saya senang melihat adanya peningkatan jumlah penerima beasiswa tersebut, apalagi pemerintah secara aktif berupaya menarik penerima beasiswa dari daerah-daerah kurang berkembang.

Saya sendiri merasakan manfaat beasiswa di masa lalu. Selain merupakan peluang emas untuk membuka diri mendalami pengetahuan, kesempatan tersebut memberikan pengalaman untuk memahami negara dan masyarakatnya yang berbeda. Hal ini membantu kita menghargai perbedaan dan kemajemukan.

Meningkatnya kualitas hasil pendidikan tidaklah mudah, terutama bagi kelompok masyarakat miskin. Banyak negara anggota Bank Dunia menghadapi tantangan yang sama, dan juga sulitnya menciptakan lapangan kerja bagi lulusan pendidikan.

Indonesia dapat belajar dari pengalaman historis sendiri, maupun belajar dari negara lain, untuk mencapai kemajuan di bidang yang sangat strategis dan penting ini.

Selain ketimpangan di bidang kesehatan dan pendidikan, terdapat ketimpangan lain yang juga sangat penting yaitu yang dialami perempuan dan anak perempuan.

Menurut laporan terkini Global Gender Gap oleh World Economic Forum, Indonesia berada pada peringkat 114 dari 145 negara terkait partisipasi peluang ekonomi perempuan.

Penting bagi Indonesia untuk mencapai peringkat yang lebih baik. Ketimpangan peluang bagi perempuan dan anak perempuan berdampak langsung pada peluang ekonomi mereka, dan secara tidak langsung, kemampuan untuk mengambil keputusan yang bisa mempengaruhi kehidupan mereka dan keluarga mereka.

Bagaimana dengan persentase perempuan yang bekerja di luar rumah? Hanya 51% perempuan Indonesia berusia 15 tahun ke atas menjadi bagian tenaga kerja.

Rasio ini tidak banyak berubah sejak tahun 1990, dan lebih rendah dari rata-rata Asia Timur dan Pasifik, yaitu 63%. Sebagai perbandingan, partisipasi tenaga kerja laki-laki lebih dari 80%.

Indonesia belum memanfaatkan secara optimal potensinya terkait ketenagakerjaan yang melibatkan semua penduduk, baik perempuan maupun laki-laki.

Ajakan terakhir yang ingin saya sampaikan terutama kepada generasi muda adalah selalu lakukan yang terbaik dan berikan yang terbaik bagi orang lain.


Tuntutlah ilmu dan kuasai kemampuan teknis yang terbaik. Jangan pernah berhenti belajar.

Carilah ilmu yang bermanfaat bukan hanya untuk kita sendiri namun juga bagi tim anda. Mudah untuk mencapai sukses sendiri. Lebih sulit untuk membangun sukses bersama dan membangun institusi. Reformasi di institusi publik dan swasta harus terus dilakukan guna meletakkan dan membangun tata kelola yang baik, efisien, dan akuntabel.

Banyak negara berkembang tidak mampu lepas dari middle income trap, pada intinya karena mereka gagal membangun institusi modern dan sistem yang berdasarkan meritokrasi dan tata kelola yang baik untuk menopang perubahan sosial, ekonomi, hukum, dan politik yang dinamis.

Tetaplah melatih dan mengembangkan pemikiran kritis dengan melakukan analisa yang jernih. Mampu membedakan antara fakta dan bukti di satu sisi, dengan bias dan subjektivitas di sisi yang lain.

Hal ini akan mendorong pengambilan pilihan, keputusan dan tindakan yang bijak dan bertanggung jawab.

Tidak kalah penting, tunjukkan empati kita. Perhatikan dan jaga perasaan, harga diri dan pikiran orang-orang yang berinteraksi dengan kita, terutama mereka yang tidak sepaham dan sehaluan. Ini terutama penting pada saat kita memiliki misi untuk melakukan perubahan guna mencapai perbaikan.

Kepemimpinan yang inklusif dan berlandaskan empati dan integritas yang bersih akan menghasilkan proses perubahan yang baik dan hasil yang lebih langgeng.

Ini bukan berarti kita harus menyenangkan semua pihak dan tidak memiliki pendirian.

Dalam lingkungan kebijakan publik, sering kita dihadapkan pada pilihan sulit. Pilihan yang tersedia seringkali tidak populer, yang bahkan bukan alternatif terbaik.

Dengan analisa yang cermat dan teliti, buatlah keputusan yang hanya bertujuan untuk kebaikan masyarakat dan tidak mengandung konflik kepentingan.

Yakini bahwa pilihan sulit yang anda ambil tetap merupakan keputusan yang terbaik bagi masyarakat dan institusi.

Kadang tidak semua orang akan mengapresiasi keputusan yang kita buat. Bisa jadi ada orang yang salah paham terhadap tindakan kita. Dan bahkan keberhasilan sering datang lama setelah kita meninggalkan jabatan kita.

Jangan putus asa. Tetap bertindak dengan integritas, jujur, adil, rendah hati, dan selalu menghormati martabat orang lain. Sikap itu akan membawa kepada ketentraman abadi.

Di mana pun anda nantinya berkarya, baik di pemerintahan, perusahaan swasta, atau LSM, dan apakah kita berada di tingkat pemula, profesional menengah, atau posisi eksekutif, tidak ada kompromi dalam menjaga integritas dan harga diri kita.

Setelah enam tahun saya bekerja di lembaga internasional Bank Dunia dan berkeliling dunia mengunjungi negara-negara berkembang maupun negara maju, saya merasa optimis melihat generasi muda Indonesia.

Indonesia dapat menjadi negara maju yang dibanggakan rakyatnya dan disegani bangsa lain. Karena Indonesia memiliki generasi muda yang selalu ingin belajar dan ingin maju, yang haus akan prestasi, dan memiliki daya juang yang tidak pernah luntur. Indonesia memiliki 65 juta generasi muda yang tidak pernah berputus asa mencintai negerinya.

Terima kasih. 

Sumber : https://finance.detik.com

Kamis, 24 Mei 2018

LESSONS LEANED (REFLEKSI PENGALAMAN BELAJAR)

Bagian kedua
LESSONS LEANED (REFLEKSI PENGALAMAN BELAJAR)
  • Bentuk refleksi belajar dari proses pelaksanaan program
  • Melihat apa yang bekerja (what works) dan apa yang kurang efektif dalam pelaksanaan kegiatan program atau capaian program
  • Melihat kesenjangan antara perencanaan dan pelaksanaan program dalam mendorong pencapaian tujuan program
  • Usulan / masukan  untuk perbaikan atau penguatan kegiatan /tujuan program

Catatan Panduan pertanyaan
  1. Apa ada peristiwa /atau proses kegiatan program yang penting atau menarik untuk menjadi bahan pembelajaran dari pelaksanaan program
  2. Faktor-faktor  apa yang mendorong pelaksanaan kegiatan atau terwujudnya capaian program menjadi efektif
  3. faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala/ hambatan dalam pelaksanaan kegiatan atau terwujudnya capaian program
  4. Apa poin –poin penting yang dapat dirumuskan sebagai refleksi belajar dalam pelaksanaan program
  5. Apa usulan perbaikan/peningkatan untuk mendorong efektivitas pelaksanaan kegiatan dan pencapaian program

Bagian ketiga
SUCCESS STORY (CERITRA KEBERHASILAN)
  • Cuplikan atau kisah yang dilhat penting/signifikan dalam pelaksanaan kegiatan program
  • Cuplikan ceritra dianggap penting untuk dipublikasikan secara luas
  • Ceritra umumnya menggambarkan inovasi atau keberhasilan dalam pelaksanaan program
  • Ceritra ditulis seperti feature dalam media cetak dengan bahasa yang sangat singkat, lugas, dan sedikit dramatis

Catatan Panduan Pertanyaan

  1. Aspek atau tahapan penting apa dalam proses pelaksanaan program yang mempunyai capaian khusus atau berdampak luas
  2. apakah ada faktor /aspek khusus yang menjadi keistimewaan ceritra /cuplikan kegiatan
  3. Bisakah cuplikan atau kisah ceritra dibuat dibuat dalam bentuk bahasa populer yang singkat dan lugas dengan menonjolkan keistimewaan kisah ceritra tersebut ?

BEST PRACTICES (PRAKTEK-PRAKTEK YANG TERBAIK)
  • Desain sebuah pendekatan/model/program yang dimplementasikan secara efektif
  • Pelaksanaan kegiatan dianggap efektif dalam pencapaian tujuan atau obyektif program (konsistensi, dampak dan efektifitas)
  • Faktor pada proses atau prosedure atau tata kelola dalam pelaksanaan program
  • Penyusunan BP disusun bertujuan untuk memberikan panduan untuk diduplikasi maupun mempersingkat kurva belajar
  • BP disusun seperti buku panduan atau buku masak

Catatan Panduan Pertanyaan
  1. Komponen /aspek/ proses apa dalam kegiatan program yang dianggap efektif dan baik untuk diduplikasi atau disebarluaskan
  2. apa dasar atau kriteria untuk memilih aspek/proses /prosedure sebagai bentuk best practices
  3. apa bentuk BP ini dapat diduplikasi pada lokasi dan setting yang berbeda
  4. bagimana stndarisasi proses /prosedure tahapan dalam BP dilakukan.

Isu tematis dalam pelaksanaan program

  1. PEMANTAUAN LEMBAGA TATA PEMERINTAHAN (Parlemen dan Eksekutif)
    • Metode dan bentuk pemantauan lembaga tata pemerintahan (parlemen , eksekutif ) yang efektif
    • Proses kegiatan pemantauan
    • Kendala dan efektivitas pemantauan parlemen /eksekutif
    • Keterbukaan akses terhadap dokumen /informasi di lembaga parlemen


  1. BERHADAPAN DENGAN ELITE LOKAL (anggota dewan , pejabat eksekutif, pengusaha, politisi dan tokoh masyarakat )
    • Pendekatan terhadap elit lokal (konfrontatif Vs non konfrontatif )
    • Metode pendekatan yang efektif
    • Kendala atau resistensi elite lokal
    • Tingkat keterlibatan elite dalam kegiatan program
    • Dampak terbangunnya aliansi dengan elit lokal


  1. PENGORGANISASIAN MASYARAKAT
    • Pilihan pengorganisasisan kelompok masyarakat
    • Metode dan bentuk pendekatan pengorganisasian masyarakat
    • Efektivitas dan kendala dalam pengorganisasian masyarakat
    • Pengorganisasisan masyarakat terhadap penguatan posisi atau daya tawar masyarakat terhadap lembaga pemerintahan
    • Dampak terhadap partisipasi masyarakat dalam proses politik


  1. PENGUATAN KAPASITAS (Pelatihan , TOT dan Lokakarya)
      Bentuk dan jenis penguatan
    • Pelatihan (TOT, langsung kepada kelompok sasaran )
    • Lokakarya (Teknis dan Substansi issu)
    • Seminar
    • Studi (assesmen , penelitian dan investigasi)
    • Pertemuan rutin multipihak atau akar rumput
    • Pendampingan /bantuan teknis

            Substansi penguatan :
    • Keadilan gender
    • Anggaran (gender , alokasi)
    • Penguatan masyarakat sipil
    • Kebijakan publik yang partisipatif
    • Tata pemerintahan yang baik
    • Anti korupsi

            Kelompok sasaran :
    • Kelompok masyarakat marginal (nelayan, tani, buruh, buruh dan perempuan )
    • Pihak pemangku kepentingan (masyarakat , negara dan swasta)
    • Elite lokal (legislatif, eksekutif dan tokoh masyarakat )
    • Organisasi masyarakat sipil

            Catatan refleksi :
    • pilihan bentuk penguatan kapasitas
    • efektivitas dan kendala penguatan kapasitas
    • dapak penguatan kapasitas
    • upaya perbaikan dan penyempurnaan metode /bentuk penguatan kapasitas

  1. ADVOKASI

      Kelompok sasaran :
    • * Kelompok marginal
    • elite lokal
    • lembaga tata pemerintahan

            tema advokasi :
    • anggaran
    • keadilan gender
    • anti korupsi
    • kebijakan yang pro rakyat

            bentuk advokasi
    • lobi dan pendekatan kepada elit lokal (secara individual dan lembaga )
    • asistensi untuk penyusunan kebijakan publik
    • analisa kebijakan
    • pendampingan dan jaringan kerja
    • kampanye media (talk show, leaflet, poster dan buletin)
    • mobiliasasi (rally dan demostrasi
    • kaukus perempuan

            catatan refleksi
    • apa dasar pemilihan pendekatan advokasi
    • efektivitas dan kendala /hambatan
    • apakah ada perubahan sikap dan prilaku kelompok setelah kerja advokasi
    • masukan untuk penguatan kerja-kerja advokasi.