|
TAHAP
PEKERJAAN
|
PEKERJAAN
|
|
|
PRODUKSI
|
Pengurusan kelengkapan dana
|
|
|
PENELITIAN NASKAH
|
Pembuatan jadwal kerja
|
|
|
Pembuatan lembar inventaris naskah
|
||
|
Brief Penelitian naskah
|
||
|
Pencarian naskah
|
||
|
|
Pengumpulan dan inventaris naskah
|
|
|
PEMILIHAN NASKAH
|
Pembacaan dan pencatatan
|
|
|
|
Konfirmasi pemilihan naskah
|
|
|
PENULISAN PENGANTAR
|
Pemberian data ke penulis
pengantar
|
|
|
|
Penulisan pengantar
|
|
|
PENELITIAN FOTO
|
Penentuan naskah yang membutuhkan
foto
|
|
|
Konfirmasi kebutuhan foto
|
||
|
Brief penelitian foto
|
||
|
Pencarian foto beserta izin
penggunaan
|
||
|
Pengumpulan dan inventaris foto
|
||
|
Pembuatan caption foto
|
||
|
|
Konfirmasi caption foto
|
|
|
PENGETIKAN NASKAH
|
Inventaris naskah yang perlu
diketik ulang
|
|
|
Penyiapan bahan naskah untuk
diketik ulang
|
||
|
Pengetikan naskah
|
||
|
|
Pengurusan naskah ke pengetik
naskah
|
|
|
PENYUNTINGAN NASKAH
|
Penyuntingan naskah tulisan
Bambang Bujono
|
|
|
|
Konfirmasi Penyuntingan
|
|
|
PENULISAN
|
Penulisan pengantar editorial
|
|
|
Penulisan sinopsis buku, colophon,
daftar tulisan dll
|
||
|
|
Penulisan ucapan terima kasih
|
|
|
PROOFREADING I
|
Proofreading naskah
|
|
|
Konfirmasi proofreading naskah
|
||
|
|
Penyerahan naskah kepada desainer
|
|
|
DESAIN
|
Desain sampul dan isi (konsep)
|
|
|
Presentasi desain sampul dan isi
(konsep) dalam rapat
|
||
|
Brief kepada ilustrator sampul
|
||
|
Desain sampul dan isi
|
||
|
|
Konfirmasi dan catatan revisi
desain
|
|
|
PROOFREADING II (FINAL)
|
Proofreading naskah
|
|
|
|
Konfirmasi proofreading naskah
|
|
|
DESAIN (FINALISASI)
|
Revisi dan finalisasi desain untuk
cetak
|
|
|
CETAK
|
Pencetakan
|
|
|
PENERIMAAN CETAKAN
|
Penerimaan cetakan
|
Selasa, 27 Agustus 2019
TAHAPAN KERJA
Selasa, 13 Agustus 2019
JASA LAYOUT
Kami menyediakan jasa layout untuk naskah buku dan jasa desain cover buku
Kami memiliki Tim Kreator yang profesional dan memiliki
pengalaman di bidang tata letak naskah daan cover buku.
Percayakan kepada kami untuk keperluan layout naskah Anda.
Hubungi kami:
email : tollelegi@gmail.com
Telp/ watshap/SMS : 081288612237
Jumat, 09 Agustus 2019
Senin, 15 Juli 2019
PELUNCURAN DAN DISKUSI BUKU “WAJAR ADANYA KATA”
Buku “ Wajar Adanya Kata” merupakan
kumpulan esay yang ditulis Romo Stefan Kelen, Pr, dalam berbagai kesempatan.
Dari penulisnya, buku ini merupakan buku kedua, setelah buku pertama “Tak Hanya
Diam”, yang mengalami dua kali cetak ulang. Buku pertama diberi kata Prolog oleh
wartawan senior Media Indonesia Gaudens
Suhardi dan Epilog oleh Pater Dr. Budi Kleden. Buku “Wajar Adanya Kata”
yang merupakan buku kedua ini, diberi kata Prolog oleh Sastrawan Linda Christanty
dan Epilog dari Teolog Dr. Andreas Atawolo.
Romo Stef, kelahiran Basira, Tanjung Bunga-Flores Timur 19 Juni
1973 lalu, mengalami pendidikan dasar di SDK Tanahbelen, Tanjung Bunga,
pendidikan menengah di SMP San Pankratio
di Larantuka, dan Seminari Menengah
San Dominggo Hokeng. Selepas seminari menengah, ia memilih untuk menjadi imam
di Keuskupan Pangkalpinang, dan menempuh Tahun Orientasi Rohani (TOR) dan kuliah
di Seminari Tinggi St Petrus, Pematang Siantar, Sumatera Utara. Setelah
menjalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Natuna dan menjalani pendidikan
Post S1 di STF St Yohanes Pematangsiantar, ia ditahbiskan menjadi diakon dan
selanjutnya menjadi imam projo Keuskupan Pangkalpinang, sejak 20 Mei 2004
hingga saat ini.
Ia mencintai dunia menulis, mengelola
beberapa media seperti berkatnews.com,
katoliknews.com, jurnaltimur.com dan jurnalbabel.com. Ia belajar khusus
tentang jurnalistik di Lembaga Pers Dr Sutomo Kebon Sirih Jakarta, dan magang
di desk Polkam Media Indonesia. Selanjutnya dalam catatan Dewan Pers, ia
menjadi pastor pertama di Indonesia yang memiliki sertifikasi wartawan.
Melihat potensi dan minat Romo yang mengaku sebagai "SobatPadi"
ini, oleh Alm Mgr Hilarius Moa Nurak SVD, waktu itu mengutusnya untuk menempuh
Studi Magister Ilmu Komunikasi di Universitas Mercu Buana Jakarta. Ia
menyelesaikan studi ini dengan nilai Cum Laude, IPK 3,83. Tesis yang
diselesaikannya berjudul : ETIKA POLITIK BASUKI TJAHAJA PURNAMA (AHOK) DALAM BINGKAI RETORIKA DIALEKTIK (Analisis
Framing atas Program Mata Najwa di Metro TV). Selepas studi khusus ilmu komunikasi ini, oleh Uskup Mgr
Adrianus Sunarko OFM dipercayakan sebagai Ketua Komsos Keuskupan Pangkalpinang
dan Anggota Pengurus Yayasan Tunas Karya yang mengelolah 44 sekolah Katolik di
Kepulauan Bangka Belitung dan Kepulauan Riau, termasuk Batam di dalamnya.
Berhubung dengan esai-esai yang
ditulisnya termasuk dalam buku W‘ajar Adanya Kata”, ia bertolak dari realitas
konkrit masyarakat dan umat pangkalpinang serta umat dan masyarakat umum yg ia
jumpai dalam pelayanan. Dengan pengetahuan
yang dimilikinya, dan gaya penulisan yang ringan, penuh humor dan sentilan, ia
mengomentari banyak hal yang menjadikan artikelnya tidak saja hanya dittujukan
pada masyarakat pangkalpinang tetapi juga masyarakat umumnya dimana pun berada.
Buku “Wajar Adanya Kata”, merupakan
buku kumpulan 27 esai dari Romo Stafan Kelen,Pr. Linda Christanty dalam
prolog yang ditulis pada buku ini mengatakan “Saya merasa negeri kita,
rakyatnya dan pemimpinnya memiliki harapan setelah membacanya. Kepada mereka
yang tersisih dan teraniaya, kehadiran seorang Romo di tengah mereka memberikan
kegembiraan dan pencerahan. Kepada mereka yang berkuasa, kuat dan mengabaikan
sesame, karya ini memberi teguran, peringatan dan sindiran untuk belajar
mendengar hati nurani dan hidup lebih bermanfaat”. Linda mengakui bahwa esai
yang ditulis Romo Stefan Kelen, sangat dipengaruhi oleh tempat mana Romo Stefan
berasal dan mengalami pendidikan menengah yakni Larantuka yang merupakan
tonggak keimanan katolik. Suatu tradisi yang menunjukkan bahwa kepeduliaan dan
keberpihakan tidak pernah tercerai berai dari keimananan, dan kecendikiaan
menjadi penerang di masa tidak menentu.
Sementara Dr. Andreas Atawolo dalam
mengapresiasikan buku ini mengatakan, “ Lebih dari sekedar judul, kata-kata ini (Wajar Adanya Kata-Red),
merupakan ekspresi kesadaran. Hidup ini sesuatu yang wajat dan nyata. Kita
tidak memahami dunia tanpa menjadi pelaku di dalamnya. Pater Andreas Atawolo
juga memberikan penekanan pada aspek “communion” yang merupakan titik berangkat
dari seluruh esai dari buku ini. Dikatakan Pater Andreas, orang-orang yang
berada dalam communio melakukan tugas pelayanan bagi yang lain. Dalam cita-cita
persaudaraan semesta itu system politik tidak cukup ditopang oleh gagasan
rasional, melainkan kehadiran nyata para pemimpin di tengah masyarakat,
khususnya mereka yang terpinggirkan.
Atas dasar keberlakukan esai-esainya
yang dinilai sebagai suatu yang universal, juga berhubungan dengan perjalanan
hidupnya dari kampung flores Timur ke Pangkalpinang, maka sebagai persembahan
dan penghormatan terhadap tanah kelahirannya, demikian juga penghargaan yang
diberikan dari tanah kelahirannya, maka buku ini secara khusus akan diluncurkan
dan disikusikan di Larantuka.
Hal ini pun berhubungan sangat erat
dengan perkembangan kota Larantuka yang mau tidak mau harus juga belajar dari
perkembangan yang terjadi di daerah lain. Hal ini juga sangat bermanfaat bagi lembaga pendidikan yang akan menghasilkan
lulusan yang berkiprah di luar daerah. Bagai
cerita dari rantau, peluncuran dan diskusi buku ini diharapakan membawa
inspirasi dan motivasi bagi perkembangan generasi muda, juga siapa saja
yang hendak membuka jendela melihat apa
yang terjadi di luar sana yang kemudian membawa sikap dan tindakan sebagai
tanggapan atas realitas yang dihadapi sehari-hari.
Diskusi dan peluncuran buku ini menghadirkan dua pembicara yakni P. Dr. Andreas Atawolo, OFM (Teolog, Dosen STF Driyarkara, Pemberi Epilog pada buku “Wajar Adanya Kata”). dan Vincentius Lemba, S.Fil, M.Pd. (Pendidik/ Rektor IKTL). Moderator Diskusi Benjamin Tukan. Diskusi dan peluncuran berlangsung di Kampus IKTL Waibalun - Larantuka, Sabtu 6 Juli 2019, pukul :
09:00 – 12:00. @
Sabtu, 08 Desember 2018
Yuk, Terbitkan Buku Sendiri!
KOMPAS.com - Anda senang
menulis cerpen, atau cerita bersambung? Jangan biarkan tulisan Anda menumpuk di
dalam komputer saja. Agar karya bisa dikonsumsi publik, sebagian penulis
memilih untuk melakukan self publishing. Bagi Anda yang berniat mencoba cara
ini, ikuti langkahnya.
Siapkan naskah
Siapkan naskah yang siap
terbit. Jika ingin mendapat keuntungan finansial dari penjualan buku, sesuaikan
dengan selera pasar. Kecuali jika Anda sudah punya target market sendiri.
Siapkan modal
Umumnya, modal yang
dibutuhkan sekitar Rp 10-30 juta, tergantung dari jumlah halaman dan eksemplar.
Jika Anda tak memiliki cukup modal, cobalah tawarkan kerja sama dengan teman
atau lembaga tertentu.
Urus ISBN dan barcode
Setiap judul buku perlu
identitas yang berlaku secara internasional dengan cara mendapatkan nomor ISBN
(International Standard Book Number). Nomor ini bisa didapatkan di Perpustakaan
Nasional. Setelah mengisi formulir keanggotaan ISBN, kita akan mendapatkan
kartu keanggotaan dan penerbitan buku kita akan tercatat. Setelah itu tinggal
buat barcode buku.
Pilih percetakan tepat
Usahakan memilih
percetakan yang sudah biasa mencetak buku agar kualitas buku terjaga. Jika
tidak, bisa jadi Anda justru sedang mempertaruhkan kredibilitas, kepercayaan
pembaca.
Tentukan harga jual
Jumlahkan seluruh biaya
produksi percetakan dibagi dengan jumlah oplah buku, lalu dikalikan lima,
hasilnya adalah harga jual buku kita. Jangan menetapkan harga terlalu tinggi,
karena akan memengaruhi minat beli konsumen. Cobalah berkonsultasi dengan
distributor atau toko buku.
Pilih distributor
Temukan distributor yang tepat, dan buatlah
perjanjian distribusi. Bagaimana sistem penjualannya, apakah beli putus atau
konsinyasi. Berapa keuntungan untuk distributor dan royalti untuk penulis.
Jangan lupa, mintalah laporan penjualan buku Anda setiap bulannya.
Kerja sama dengan penerbit
Untuk diterbitkan menjadi
sebuah buku oleh sebuah penerbit, Anda butuh trik khusus.
Ide kreatif.
Kemungkinan lebih besar
diterima bila ide naskah Anda itu kreatif dan tidak pasaran.
Penerbit tepat.
Pilih yang sesuai dengan
ide tulisan. Jangan kirim cerita romantis ke penerbit khusus, seperti Yayasan Obor
yang banyak menerbitkan buku ilmiah. Hati-hati pula terhadap kredibilitas
penerbit, karena ada yang nakal, menerbitkan buku tanpa persetujuan penulis.
Buat surat pengantar.
Bila sudah menemukan
penerbit yang tepat, kirim surat pengantar mengenai tulisan Anda. Buat surat
yang menerangkan tema dan isi buku Anda. Mintalah penerbit untuk mengabarkan
apakah karya Anda diterima atau ditolak.
Bicarakan royalti.
Bila naskah Anda diterima,
jangan sungkan untuk membicarakan soal royalti. Biasanya, untuk pemula, penulis
mendapat royalti 8 - 10 persen untuk cetakan 3.000 eksemplar pertama.
Promosi sendiri.
Manfaatkan jejaring sosial
untuk mempromosikan buku Anda. Semakin sering berpromosi, maka semakin dikenal
buku Anda. Manfaatkan pula blog atau multiply untuk memperbesar kesempatan
dilirik penerbit. Aktif di komunitas juga akan membantu, karena Anda punya
jejaring teman banyak yang potensial jadi pembeli buku Anda.
Jangan patah semangat bila
naskah Anda ditolak. Tanyakan pada penerbit alasan penolakannya agar Anda bisa
memperbaikinya. Atau, kirimkan ke penerbit lain.
Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Yuk, Terbitkan Buku Sendiri!", https://lifestyle.kompas.com/read/2011/05/05/13103141/yuk.terbitkan.buku.sendiri
Rabu, 05 Desember 2018
BISA HIDUP DARI MENULIS BUKU?
Oleh : Robert Bala
Beberapa saat lalu, saya mendapatkan SMS (atau lebih tepat
inbox FB) dari seorang ‘sahabat’ di Kupang. Saya sebut sahabat karena sama-sama
memiliki hobi dalam menulis. Tetapi secara fisik kami belum saling bertemu.
Ia menayakan hal ‘sederhana’ tetapi cukup menggoda. ‘Apakah
pa Robert bisa hidup dari menulis buku?’ Pertanyaan yang cukup lama saya
tinggalkan kosong tanpa membalas. Bagi saya ini pertanyaan yang sangat sulit.
Berhenti Menulis
Pernah beredar protes dari Tere Liye yang berhenti menulis
buku. Alasannya karena pajak yang dibebankan kepadanya (dan semua penulis)
cukup banyak. Baginya, penulis buku adalah orang yang paling ‘dermawan’ kepada
negara karena membayar pajak lebih banyak dibandingkan profesi lainnya.
Untuk penghasilan Rp 1 miliar, menurut hitung-hitungannya,
profesi lain membayar di bawah 100 juta. Tetapi bagi sooerang penulis buku,
karena ditempatkan sebagai ‘royalty’ maka ia bisa membayar sekitar Rp 250 ribu.
Pengalaman Tere Liye juga hampir sama diungkapkan sorang
penulis senior. Saat saya masih berutak-atik hanya menulis artikel, ia sudah
menulis buku. Ada sebuah kalimat yang saya tidak akan lupa: “Penulis itu sapi
perahnya penerbit”. Artinya, yang ‘untung’ adalah penerbit. Penulis itu
hanyalah sapi perahan yang diambil susunya ketika masih berguna tetapi
ditinggal lepas kalau sudah tidak ada ‘susu lagi’.
Saya terkejut dengan ungkapan itu. Memang saya juga
bertanya, kalau demikian penerbit adalah sapi perah, mengapa ia tak jerah juga
menulis? Mengapa buku demi buku ia tampilkan. Kerap dibangga-banggakan,
sementara sebenarnya ia merasakan diri begitu ‘diperas tenaganya?
Informasi dari senior ini membuat saya berhati-hati ketika
memasuki dunia tulis menulis penuh ‘peras-memeras’ (dalam bahasa senior saya).
Memang di satu pihak, apa yang dikatakan senior itu benar adanya. Seorang
penulis hanya menerima royalti 6 bulan sekali, tepatnya pada Februari dan
Agustus. Lebih dari itu tidak ada lagi.
Mungkin ini membenarkan diri penulis sebagai ‘sapi perah’.
Positifnya, selagi buku kita ‘laris, royalty pun mengalir
tanpa henti. Artinya setiap 6 bulan, pada penjualan yang wajar (600 ex), maka
penulis mendapatkan sekitar 3 jtau dipotong pajak.Artinya sekitar Rp 2,5 juta.
Hal itu yang membuat penulis ikut menikmati hasilnya, meskipun harus menunggu setengah
tahun.
Mengingat tidak ada lagi pemasukan, maka kiat yang
ditawarkan penerbit biasanya pemberian ‘diskon’ 20-30% untuk setiap buku yang
dijual. Di sinilah seorang penulis perlu mejalin relasi. Sebelum buku masuk ke
pasaran, sudah ada tawaran kepada orang sekitar untuk bisa membelinya. Di sini, ‘dana’ segar bisa diperoleh.
Bagi seorang penulis yang menerbitkan karyanya melewati
proses seleksi di penerbitan, penjualan pribadi ini merupakan ‘income’
tambahan. Tetapi bagi penulis yang ‘membayar’ selurhnya untuk menerbitkan buku,
royalty itu tidak diperoleh. Ataupun itu ada, semuanya bergantung pada
pembeliannya sendiri.
Di sinilah masalah yang sering dihadapi. Buku yang dijual
itulah yang diterbitkan. Semuanya tergantung pada relasi. Sudah pasti, seluruh
marketing penjualan akan bergantung pada relasi pribadi. Tidak lebih dari itu.
Untuk hal ini, tentu ada banyak penulis buku yang merasa
sudah puas dengan diterbitkannya karya itu. Kalau ia PNS, terbitan itu bisa
saja memberikan angka kredit, hal mana sudah merupakan ‘upahnya’. Selain itu,
ia sudah cukup bangga bisa menerbitkan sebuah karya.
Tetapi bagaimanapun juga, kerja menuju penerbitan buku itu
tidak sedikit. Kalau pun tidak memberikan keuntungan, minimal semua biaya bisa
‘dicover’ dengan pembelian itu. Itulah
harapannya. Namun yang terjadi kerap tidak demikian. Jangankah tutup ongkos,
kerap penulis sendiri harus ‘ngutang’ demi melunaskan jumlah buku yang telah ia
beli.
Di sana, di balik sanjungan dan sorak-sorai, penulis justru
merenungkannya sendiri dalam ‘duka’. Boro-boro dapat untung, tutup biaya saja
kesulitan. Belum lagi lingkarang pertemanan yang turut menambah ‘hutang’ dengan
tidak cepat membayar buku yang sudah dibeli.
Mengevaluasi
Setelah buku pertama, penulis cepat menyadari bahwa tebalnya
buku berpengaruh pada harga. Tak tanggung-tanggung, pada buku pertama HOMILI
YANG MEMBUMI, harga mencapai Rp 70.000 karena terdapat 320 halaman. Angka yang
tentu tidak sedikit bagi banyak pembaca.
Setelah proses itu, saya jadi paham bahwa pembuatan film
untuk buku menggunakan kelipatan 16. Artinya tebalnya buku harus dikalikan
dengan angka 16 untuk menentukan jumlah halaman. Dari buku pertama di atas,
terdapat 20 film buku. Bila dihitung ‘pukul rata’ maka sebuah film sekitar Rp
3.500.
Pengetahuan sederhana ini kemudian jadi catatan penting
dalam penerbitan buku kedua. Pada buku MENJADI FASILITATOR, saya sudah
‘merampingkannya’ menjadi 144 halaman atau 9 film. Harga buku pun menjadi
sekitar Rp 35.000. Deikian buku berikutnya BERBUAH DI USIA SENJA. Karena
terdapat 11 film dari 176 halaman maka harga buku menjadi Rp 50.000 (Catatan:
harga buku juga ditentukan oleh harga kertas, model kertas).
Adanya ‘ekonomisasi’ dalam jumlah halaman menjadi sebuah
catatan tersendiri. Bila pada edisi perdana buku, karena belum terlalu ‘pede’
dalam menulis buku, maka perlu ada Kata Pengantar dari orang lain. Apalagi buku
itu ditujukkan untuk lingkup Gereja, sehingga perlu ada otoritas yang lebih menambah
daya dorong membeli buku.
Selain itu ada halaman yang saya dedikasikan untuk komentar
pembaca. Hal itu antara lain cukup menambah harga buku, hal mana sangat saya
perhatikan setelah buku selanjutnya. Singkatnya, menulis buku tidak bisa
dibiarkan begitu saja ‘ide’ liar tanpa memperhitungkan dimensi ekonomis.
Kemampuan baca pembeli serta usaha tidak bertele-tele dalam menulis menjadi
pembelajaran yang akan diterima oleh penulis. Kalau bisa diungkapkan secara
singkat dan padat, mengapa harus bertele-tele yang tidak saja membosankan
tetapi juga menambah harga.
Bagi guru atau dosen yang menghasilkan buku, tentu analisis
kemampuan daya beli ini kurang menjadi kecemasan. Banyaknya mahasiswa setiap
tahun sudah bisa diprediksikan akan menjadi ‘sumber yang tidak mengering’.
Selagi ia masih mengajar dan menjadikan bukunya sebagai ‘referensi utama’, maka
pembelian itu akan terus ada. Bukan mustahil kalau bukunya bisa jadi ‘best
seller’.
Tetapi pengalaman itu mesti jadi evaluasi ketika beralih
menulis buku puler untuk khalayak. Ia akan memasuki alam yang tidak bisa
diprediksikan, hal mana mulai sangat diperhitungkan. ‘Antusiasme’ pada satu
buku kuliah, tidak serta merta menjadi kesimpulan bahwa demikian akan terjadi
juga dalam buku bersifat umum.
Hidup dari Buku?
Lalu, apakah seroang penulis buku dapa thidup dari bukunya?
Jawabannya tentu ya dan tidak. Semuanya tergantung pada pengemasan buku.
Pertama, seorang penulis bisa hidup dari buku kalau ia telah
melewati proses analisis terhadap daya serap pembaca / pembeli. Dengan memesan
jumlah exemplar, ia sudah mengasumsikan bahwa ketika keluar buku tersebut,
sudah ada pembaca yang siap membeli. Hal ini sangat penting dibuat oleh penulis
yang menerbitkan bukunya pada penerbit dengan jangkauan masih kecil.
Penentuan waktu ‘launching’ dan momen yang pas, tentu akan
memengaruhi pembelian pada awalnya. Bila seorang penulis memesan 100 eksemplar
minimal, maka ditargetkan maka ongkos cetak / terbit sekitar Rp 60.000 untuk
buku di bawah 200 halaman. Dengan demikian ongkos yang harus dibayar penulis
pada awalnya minimal Rp 6. 000.000. Sekali lagi, semuanya akan ditanggung oleh
penulis buku.
Untuk yang menerbitkan buku melalui penerbit ‘besar’ tentu
saja beban ini tidak ada lagi. Setelah buku terbit, ia tidak diwajibkan memesan
buku. Tetapi pada sisi lain, ia bisa melakukannya dalam jangkauan terbatas
buku-buku mengingat penerbit biasanya memberikan diskon sebesar 20-30%
tergantung jumlah yang dipesan. Di sini ia bisa memiliki ‘sedikit’ dana sambil
menunggu royalty (biasanya 10% ) yang baru akan diberikan penerbit tiap 6
bulan, pada bulan Agustuas dan Februari).
Kedua, seorang penulis bisa ‘hidup’ dari buku, ketika
hadirnya buku segera diikuti dengan kegiatan ‘pelatihan’ atau ‘workshop’ sesuai
buku. Pelaksanaan kegiatan seperti itu akan sangat membantu penjualan. Untuk
sebuah kegiatan seminar, biasanya penjualan dapat mencapai 20 ex buku, belum
lagi kalau penulis ‘diundang’ maka ada tambahan ‘uang transport’.
Dalam pengalaman pribadi, buku yang ada semuanya sudah
mengarah kepada workshop. Buku ‘Homili yang Membumi’ dan Menjadi Fasilitator
telah menjadi teman favorit darinya dilaksanakan beberapa workshop. Sementara
buku Creative Teaching dan Menjadi Guru Hebat sebenarnya lahir dari worskhop
yang sudah dilaksanakan. Harapannya, tentu ke depan, masih ada kegiatan serupa
yang bisa membantu atau mendongkrak penjualan buku.
Buku BERBUAH DI USIA SENJA, masih dalam proses perencanaan.
Sudah dalam agenda, pada tahun 2019, akan dilaksanakan workshop. Malah ketika
sudah ada ancang-ancang, workshop, saya segera muncul ide menerbitkan buku
‘SUCCESSFUL AGING’ (Penuaan yang sukses) yang diharapkan bisa hadir di awal
tahun 2019 nanti.
Kesimpulannya, ‘untung’ atau ‘ruginya’ seorang penulis buku
tidak saja bergantung pada penerbit atau pasar tetapi juga pada penulis itu
sendiri. Ia harus ‘kreatif’ menciptakan jaringan agar ketika buku ini muncul,
ada sambutan. Pemanfaatan Media Sosial dapat menjadi sarana untuk promosi.
Pada sisi lain, media sosial juga dapat menjadi indikator
mengukur antusiasme orang pada buku. Beberapa buku yang sudah diterbitkan
sangat inspiratif terhadap peran media sosial. Tanggapan pembaca sungguh
menjadi masukan berharga.
Demikian ‘sharing’ atas pengalaman menulis buku. Dalam dunia
menulis buku, saya juga adalah pemula. Tetapi keberanian menerbitkan 6 buku
dalam 2 tahun, minimal masih memberikan harapan bahwa antusiasme ini tidak akan
terjadi kalau tanpa ada manfaat ekonomis. Kalau pun tidak terlalu banyak
manfaatnya, minimal tidak membuat penulis ‘nombok’. Semoga bermanfaat.
Robert Bala. Menulis buku sejak tahun 2017 setelah 16 tahun
menulis artikel di berbagai media massa.
Sumber Tulisan
https://bertoamigo.wordpress.com
Langganan:
Postingan (Atom)



















