Sabtu, 15 Juli 2017

TAK HANYA DIAM


TAK HANYA DIAM || Penulis : Stefan Kellen, Pr || xii +218 halaman || Penerbit : Tollelegi || ISBN : 978-602-98799-0-2|| Cetakan Pertama, 2011.

Tollelegi Literasi


KARYA MAHASISWA KABUPATEN BINTUNI



KARYA MAHASISWA KABUPATEN BINTUNI - PAPUA BARAT: PERJUANGAN MENUJU PERUBAHAN || Penyunting: Eligius Furimbe || 74 halaman || Penerbit : Tollelegi || Cetakan Pertama,Oktober 2016 || ISBN : 978-602-74885-2-6

KEMBALI KE TIMUR





KEMBALI KE TIMUR: CATATAN SEORANG DOKTER PTT DI PEGUNUNGAN TENGAH - PAPUA || Penulis : dr. Indah Permata || Editor : Benjamin Tukan || xxiv + 308 halaman || Penerbit : Tollelegi || Cetakan Pertama,Maret 2016 || ISBN : 978-602-72022-7-6

125 Tahun Pujangga Eksentrik Franz Kafka



Tak ada sastrawan yang seperti Franz Kafka. Dianggap begitu rumit, begitu gelap, begitu tidak karu-karuan. Lahir 3 Juli 1883, meninggal sebulan sebelum berusia 41 tahun, pada 3 Juni 1924.


Kalau saja ia masih hidup, hari Kamis tanggal 3 Juli Franz Kafka akan berusia 125 tahun.Franz Kafka tak pernah meramalkan sukses besarnya sebagai sastrawan. Namun teknik penulisannya yang begitu otentik dan orisinal, merupakan pilihan sadar dan sikap dasarnya dalam menulis. Dalam sebuah suratnya kepada Oskar Lotak, 27 Januari 1904, ia mengatakan, "Suatu buku haruslah bagai menikam atau mencederai pembacanya. Katanya, kalau buku itu tidak membangunkan kita dengan suatu tonjokan di kepala, untuk apa kita membacanya?"

Ia mengatakan, kalau perlu buku macam itu harus kita tulis sendiri. Lalu katanya pula, apa yang kita butuhkan adalah buku yang memberi dampak pada kita bagaikan bencana yang menciptakan duka cita yang mendalam, ibarat kematian seseorang yang kita cintai lebih dari diri kita sendiri, seumpama dibuang jauh ke rimba raya terkucilkan dari siapapun, seperti suatu bunuh diri. Buku haruslah merupakan sebuah kapak yang menghancurkan samudera yang membeku dalam diri kita

Betapa kuat kalimat-kalimat itu. Begitu kokoh. Dan begitu konsisten kredo kesastrawanannya itu diwujudkan dalam karya-karyanya. Yang gelap, dengan kata-kata yang berantakan, kalimat-kalimat panjang yang saling berhimpitan, membangun suatu arsitektur bahasa tersendiri, menciptakan suasana gelap, tertekan, terasing, getir, sendirian terkucil.

Tetapi siapakah Franz Kafka, si peracau itu? Sebuah buku baru diterbitkan menyambut ulang tahun Kafka ke 125. Judulnya, 'Biografi Franz Kafka: Tahun-Tahun Penjelmaan'. Pengarangnya, Reiner Stach mengatakan, dengan buku itu disusun berdasarkan hidup Franz Kafka dari 1916 hingga kematiannya 1924.

"Saya ingin menunjukkan bahwa peristiwa-peristiwa politik yang disaksikan Kafka khususnya selama Perang Dunia, bukan sekadar latar bagi hidupnya semata. Melainkan, dia juga sangat terlibat di dalamnya. Saat itu ia dipaksa untuk membeli surat obligasi dana perang. Akibatnya seluruh simpanannya, yang sebenarnya disimpan supaya nanti bisa berhenti dari kerjanya di perusahaan asuransi, dan hanya menulis sepanjang hidupnya itu habis. Bisa dibilang dicurilah, begitu."

Franz Kafka


Terlepas dari kepribadiannya yang nyentrik, Franz Kafka adalah pekerja keras. Ia sungguh-sungguh ketika menjadi pekerja di perusahaan asurani untuk menyambung hidupnya, juga ketika pindah ke perusahaan lain. Namun ia juga mengerahkan seluruh kesungguhannya untuk menulis.

"Ketika Gregor Semsa terbangun suatu pagi dari suatu mimpi yang kacau, di atas tempat tidurnya itu ia mendapati dirinya telah berubah menjadi seekor serangga raksasa." Begitulah kalimat pembuka Metamorfosa, atau dalam judul aslinya, Verwandlung, salah satu karya Franz Kafka yang legendaris.

Ini barangkali kalimat pembuka paling terkenal dalam dunia sastra. Kalimat awal yang tak ada tandingannya. Novel itu sendiri adalah karya yang taka da tandingannya pula. Sebuah karya yang mengguncangkan nilai dan estetika. Metamorfosis mengubah sepenuhnya pandangan dunia mengenai sastra, dan pandangan mengenai dunia sastra. Bahwa suatu karya sastra bisa ditulis dengan cara yang sepenuhnya berbeda.

Metamorfosis boleh dikata merupakan satu-satunya novel Franz Kafka yang tuntas. Tidak dalam pengertian tamat seperti novel pada umumnya. Namun setidaknya berakhir pada ujung yang boleh dikata konklusif. Sedangkan karya-karya monumental lain, seperti Amerika, Manusia yang Tersesat, serta Peradilan, alias The Trial alias Proses, kastil alias Schloss, merupakan karya yang tidak selesai, yang terputus di tengah jalan. Tetapi toh, karya-karya tidak beres itu begitu mempengaruhi dunia. Mengapa karya-karyanya tidak selesai? Reiner Stach menjelaskan:

"Setiap malam sesudah pukul 5 sore ia harus ke kantor. Ia juga musti masuk kantor setiap hari Sabtu. Ia jadi kehabisan waktu. Ia berusaha mengabaikannya. Tapi akibatnya ia justru kurang tidur. Itu alasan kenapa ia tidak berhasil menyelesaikan naskah berjudul "Proses", atau di dunia internsional dikenal sebagai The Trial, Pengadilan. Karena tugas di kantor dan keharusan menulis membuat beban hidupnya jadi berlipat ganda. Ia jadi begitu letih."

Manusia letih ini juga selalu gelisah. Tidak tenang. Serba tidak nyaman, tidak aman. Serba cemas, serba kuatir. Namun katanya, "Ketakutanku adalah inti jiwaku, dan bisa jadi bagian terbaik dari diriku."

Semua kepribadiannya, kecenderungan hidupnya, pandangannya, kegelisahannya, kecanggungannya, kesepiannya, kecemasannya, detil-detil kecil dari kesehariannya, seakan tercermin kuat, atau terwujudkan secara khas dalam karya-karyanya. Dalam Metamorfosis ia adalah Gregor Samsa yang terbangun di pagi hari sebagai seekor serangga raksasa, dalam Kastil sosok-sosok berseliweran, dan berakhir dengan kalimat yang tak selesai, dalam Pengadilan, seorang lelaki tiada guntur tiada angin ditangkap.

Franz Kafka adalah manusia dengan minoritas lipat tiga di Ceko. Ia seorang Yahudi, seorang penyendiri, dan seorang pengguna bahasa Jerman. Kafka memang lahir dari sebuah keluarga Yahudi makmur di sebuah kawasan berbahasa Jerman di Praha. Seluruh pendidikannya dijalani dalam bahasa Jerman. Karenanya, kendati ia menguasai juga bahasa Ceko dan kemudian Prancis, ia menulis dalam bahasa Jerman. Bahasa yang sangat rumit, yang seakan menjadi alat yang lebih sempurna lagi bagi kerumitan kepribadian Kafka.

Keluarganya, masa kecilnya, pendidikannya, kendati elitis, jauh dari susana yang membahagiakan Franz Kafka. Dalam biografi yang disunting sahabatnya, Max Brod, ia menulis,bahwa ia bisa membuktikan setiap saat bahwa pendidikan yang dialaminya diupayakan untuk menciptakan kepribadiannya yang berbeda, yang bukan dirinya sendiri. Ia menuntut agar para pendidiknya untuk mengarahkannya sesuai kepribadian sebenarnya. Namun katanya, karena mereka tak mampu memenuhinya, ia melontarkan kecaman saja, olok-olok yang bergema nyaring di menembus dunia.


Franz Kafka berangan-angan pindah ke Berlin, Jerman, dengan harapan bisa terbebas dari lingkungan keluarga dan masa kecilnya, hidup sebagai penulis sepenuhnya bersama tunangannya Felice Bauer yang tinggal di Berlin. Namun perang dunia pertama meletus, dan ia tak leluasa bepergian. Dan akhirnya hubungan mereka yang terbina selama 5 tahun, putus pada tahun 1917. Tak lama kemudian Kafka terserang Tuberculosis, TBC. Berbarengan dengan makin parahnya berbagai masalah yang bersumber pada kejiwaannya, Seperti paranoia, kecemasan, psikosomatik. Dan Kafkapun mengutuk. Katanya, paru-parunya dan otaknya diam-diam berkomplot. Di luar itu, Kafka memang selalu tak nyaman dengan orang lain. Salah satunya, digambarkan Reiner Stach yang baru saja menulis buku tentang Kafka:

"Dia punya kebiasaan tetap yang khas yang tampak ganjil. Ia tak bisa mengubahnya. Dan ia tahu itu bisa jadi bahan tertawaan. Sebetulnya tak ada kebiasaan ganjilnya yang betul-betul membuat orang lain tak bisa bergaul dengannya. Namun Kafka berpikir, itu akan membuat orang lain menjauhinya.."
Kafka Statue in Prag

Patung Kafka di Praha

Franz Kafka jatuh cinta lagi di tahun 1921 kepada Milena Jesenka, seorang wartawati Ceko. Dalam sebuah suratnya Kafka mengatakan, "Dalam cinta ini engkau bagaikan sebilah pisau, yang dengannya aku jelajahi diriku sendiri." Namun ia menganggap "persetubuhan adalah suatu hukuman atas kebahagiaan sepasang kekasih".

Tetapi dua tahun kemudian ia pindah ke Berlin dan hidup dengan seorang guru TK bernama Dora Diamant, yang memperkenalkannya lebih dalam dengan keyahudian. Kafka kemudian tertarik pada spiritualitas dan kebudayaaan lama Yahudi. Kendati Kafka tak pernah benar-benar menjadi seorang Yahudi religius. Kafka sempat juga terpengaruh oleh sejumlah kawan-kawannya yang Zionis. Sampai berencana untuk ikut pindah ke kawasan Palestina yang saat itu berada dalam mandat Inggris dan Israel belum ada. Namun penyakit TBC mengagaglkannya. Ia meninggal 3 Juni 1924.

Beberapa saat menjelang kematiannya, ia berwasiat kepada sahabatnnya, Max Brod dan teman hidupnya, Dora Diamant, agar membakar dan memusnahkan seluruh karyanya. Agar, katanya, "Tidak akan pernah ada bukti bahwa saya seorang penulis." Namun wasiatnya tidak diindahkan. Sejumlah buku catatannya diselamatkan, kendati tidak semuanya. Dan lama sesudah kematian, diterbitkan, kendati banyak di antaranya yang diragukan kebenaran susunannya. Karena banyak halaman lepas yang tidak diberi nomor halaman. Sehingga harus disusun ulang berdasarkan tafsieran Max Brod.

Yang unik, ketika Nazi Hitler berkuasa di Jerman belasan tahun kemudian, dan merenggut nyawa tiga adik perempuannya di kamp konsentrasi, Kafka memunculkan masalah baru. Para penguasa Nazi melakukan penyitaan terhadap karya-karyanya, dan memusnahkannya sebagian. Sesudah Zazi kalah dalam Perang Dunia kedua, seluruh dunia mengerahkan sebuah operasi besar untuk menelusuri karya-karya Franz Kafka. Karya-karya gelap, yang sekali lagi, penuh gambaran berantakan, kalimat yang bagai meracau, struktur yang bertumpuk. Sebuah c ara berkesusastraan yang menggemparakn, bahakn boleh dikata mengubah kesusastraan. Reiner Stach, penulis biografi Franz Kafka terakhir, menggambarkannya:


"Saya selalu katakan, di kepala Kafka bagaikan ada bioskop yang selalu memutar film penuh khayalan. Jadi mungkin seperti orang yang di bawah pengaruh obat bius. Atau justru seperti orang yang sedang mengalami masa puber."

Sumber  Tulisan : http://www.dw.com/id/125-tahun-pujangga-eksentrik-franz-kafka/a-3456076-0

MEMBANGUN PAPUA DENGAN HATI




Membangun Papua dengan Hati, Antara Ucapan dan Realita/ Penerbit Tollelegi /Tahun 2013/ Penulis : Paskalis Kossay, S.Pd, MM./ Keterangan : Persediaan Habis

Noam Chomsky, Buku dan Penerbitan



Noam Chomsky juga disebut-sebut sebagai Galilleo Galillei atau Rene Descartes masa depan.[butuh rujukan] Empat ribu penghargaan atas karyanya muncul dalam daftar Arts and Humanites Citation Indeks, dari 1980-1992. Menurut Science Citation Index, sepanjang 1974 hingga 1992, namanya memperoleh penghargaan sebanyak 1619 kali. Termasuk di antaranya adalah Kyoto Prize, semacam hadiah Nobel yang diberikan di Jepang, pada tahun 1988.


Proses penerbitan buku-buku Chomsky cukup menarik perhatian, mengingat dia jarang sekali berupaya untuk mempublikasikan karya-karyanya. Tampaknya penggemar Chomsky selayaknya berterimakasih kepada editor atau aktivis yang tertarik pada tulisannya, kuliahnya, wawancaranya. Karena melalui antusiasme merekalah, karya-karyanya bisa dibaca oleh audiens yang lebih luas daripada kelompok akademisi saja.

Ketika pertama kali menjalin kerjasama penerbitan, Chomsky memilih penerbit kecil daripada penerbit sekelas Random House. Andre Schiffrir, mantan Direktur Pelaksana di Pantheon yang menerbitkan buku-buku awal Chomsky tentang politik selama tahun 1970-1980, mengenang, "Dia memberikan bukunya untuk kelangsungan hidup penerbit-penerbit kecil."

Meskipun Chomsky mulai membangun reputasinya dan menarik sekelompok kecil penggemar pada era 1970-an dan 1980-an dengan buku-buku linguistik dan sejumlah buku politik, tetapi sebenarnya, buku tipis bersampul lunak dan enak dibaca yang diterbitkan oleh penerbit pada era akhir 1990-an yang memperluas penyebarannya baik di toko besar maupun kios-kios buku.
Noam Chomsky


Pada awal 1990-an, Arthur Naiman, saat itu pemilik penerbitan buku-buku komputer, mendengar Chomsky berbicara di radio dan tertarik untuk menerbitkan karyanya. Naiman pun membuka penerbitan baru untuk menampung buku-buku tipis tentang politik dan dicetak dalam jumlah besar. Di bawah nama penerbit Odonian Press, dia menerbitkan empat buku tipis Chomsky antara tahun 1992 dan 1998 dalam seri Real Story. Hingga akhir tahun 2002, masing-masing telah terjual, rata-rata 118.000 kopi.

Greeg Ruggiero, aktivis yang terlibat dalam penerbitan Open Media Pamphlet Series pada era 1990-an, adalah orang yang berperan dalam memperluas audiens pembaca karya-karya Chomsky. Dia kerap menerbitkan pamflet-mudah difotokopi dari kuliah-kuliah Chomsky dan menjualnya di pojok-pojok jalan di kota New York. Setelah terbukti diminati, dia kemudian mengontak kios-kios buku di seluruh negara bagian dan menjual 10 ribu kopi dengan cara itu. Pada 1995, Ruggiero menawarkan serial ini ke Penerbit Seven Stories Press.

Pada Oktober 2003, Metropolitan Book menerbitkan buku Chomsky yang lain yang berjudul Hegemony of Survival: America's Quest for Global Domination. Buku ini merupakan bagian dari American Empire Project yang menerbitkan buku-buku tipis namun berdasarkan argumentasi yang kukuh dari para penulis dan pemikir terkemuka. Terlepas apakah buku tersebut memuat kritik barunya atau tidak, Sara Berstel, wakil dari penerbit ini, yakin bahwa buku ini akan terjual dengan baik. "Dia selalu memiliki sesuatu [yang baru] untuk disampaikan yang tidak dapat diperoleh pembaca di tempat lain," kata Bersthel.

Seputar 11 September

Menurut Publishers Weekly, setelah peristiwa 11 September, Chomsky telah menghasilkan dua buku laris yang terjual jutaan eksemplar. Dia juga dinobatkan sebagai penulis buku terlaris bertema politik yang belum tertandingi oleh penulis bertema sama yang ada di AS saat ini.

Di luar bencana yang ditimbulkan oleh serangan 11 September terhadap gedung WTC New York, peristiwa ini juga meroketkan popularitas buku-buku Chomsky. Ketika banyak orang merasa muak dengan sumber-sumber bacaan yang menjadi propaganda pemerintah AS, buku-buku politik Chomsky yang kontroversial seperti 9-11 (Seven Stories, 2001) dan Power and Terror: Post 9-11 (Seven Stories, 2003) menjadi buku laris.

Karena tidak terlalu peduli dengan kegiatan promosi buku-bukunya,Publishers Weekly menjuluki Chomsky sebagai The Accidental Best Seller, penulis terlaris yang sama sekali keluar dari pakem atau praktik-praktik para pengarang best seller modern.

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Noam_Chomsky